Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.Manusia bereksistensi barulah manusia menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya
}
Beberapa tokoh filsafat yang
menganut gaya eksistensialisme, adalah
Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin
Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dan masih banyak lagi.
filsafat
harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka
bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Ciri- ciri Eksistensialisme
- • Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
- • Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
- • Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
- • Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
Pandangan Kierkegaard
Eksistensi menurut Kierkegaard :
merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan
mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
Ada tiga cara bereksistensi: tiga sikap
terhadap hidup, yaitu:
- Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yangg dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yg amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
- Sikap etis: Sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan.
- Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diri-Nya pada manusia.
Manusia menjadi seperti apa yang dipercayai nya ?
• Pernyataan
Parmenides hingga Hegel: ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh
Kierkegaard, karena menurutnya
‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan
menentukan bagaimana dia akan ada secara abadi. Manusia
memilih eksistensinya entah sebagai penonton yangg pasif, atau sebagai pemain atau individu yang menentukan
sendiri eksistensinya dg mengisi kebebasannya.
Waktu dan keabadian
• Setiap orang adalah
campuran dari
ketakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia adalah gerak menuju Allah, tapi juga terpisah atau terasing dari Allah. Manusia
dapat menyatakan YA
kepada Tuhan dalam iman, atau
mengatakan TIDAK. Jika ia mengatakan YA,
ia akan menjadi yang ia ada.
Manusia hidup dalam dua dimensi
sekaligus, yaitu keabadian dan waktu.
Kedua dimensi
itu bertemu dalam “saat”’. Saat adalah
titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dalam “saat”, yaitu saat
pilihan.
Pilihan itu
suatu “loncatan” dari waktu ke
keabadian.
Subjektivitas dan Eksistensi Tugas
• Eksistensi
manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu.
Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Bila
eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dn
religius.
Eksistensi sebagai tugas disertai
oleh tanggung jawab. Tidak seperti berada dalam massa,
eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan
sendiri. Untuk itulah
Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.
Publik dan Individu
• Pendapat umum
kerap didukung oleh khalayak ramai yang anonim belaka. Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi
belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.
• Orang sering
berusaha menggabungkan diri dalam kelompok dengan mengumpul
tanda tangan. Ini bukti orang itu tidak berani tampil
sendiri secara berarti.
Mereka itu orang-orang lemah. Mengandalkan diri pada kekuatan
numerik. Ini adalah kelemahan etis. Kierkegaard bukan menolak adanya
kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain.
“ Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis
barulah penggabungan bersama dapat disarankan. Kalau tidak, penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan antara anak - anak”
Pandangan Jean Paul
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai
dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda
lain yang tdk punya kesadaran.
Untuk manusia eksistensi adalah
keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti
esensinya. Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Asas pertama untuk memahami manusia
harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada
eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggung jawab.
Tuhan tidak bisa dimintai tanggung jawab . Tuhan tidak
terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan
hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggung jawab.
Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila
kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
Beberapa kenyataan (kefaktaan) yang mengurangi penghanyatan
kebebasan :
- Tempat kita berada : situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
- Masa lalu : tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
- Lingkungan sekitar (Umwelt)
- Kenyataan adanya sesama manusia dg eksistensinya sendiri.
- Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Walaupun kefaktaan ini melekat dlm
eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tidak bisa dikurangi atau
ditiadakan.
Kebutuhan manusia
Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai
wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai pusat
orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat sematamata,tapi mengukuhkan
kehadiran kita sebagai eksistensi.
Komunikasi dan Cinta
Komunikasi : suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya
sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan
terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah-seolah membekukan orang
lain. Terjadi saling pembekuan sehingga masing-masing jadi objek.
Cinta : bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek
cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak
terhindarkan.
No comments:
Post a Comment