Tuesday, 7 October 2014

Pertemuan IX, EKSISTENSI

jumat, 3 oktober 2014

Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.Manusia bereksistensi barulah manusia menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya

}  Beberapa tokoh filsafat yang menganut gaya eksistensialisme, adalah
Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dan masih banyak lagi.

filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.


Ciri- ciri Eksistensialisme
  •        Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
  •        Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
  •        Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
  •        Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.

Pandangan Kierkegaard 
 

   Eksistensi menurut Kierkegaard : merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.

     Ada tiga cara bereksistensi: tiga sikap terhadap hidup, yaitu:
  • Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yangg dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yg amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
  • Sikap etis: Sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan.
  • Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diri-Nya pada manusia.

Manusia menjadi seperti apa yang dipercayai nya ?
       Pernyataan Parmenides hingga Hegel: ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh Kierkegaard, karena menurutnya ‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada secara abadi. Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yangg pasif, atau sebagai pemain atau individu yang menentukan sendiri eksistensinya dg mengisi kebebasannya.

Waktu dan keabadian
       Setiap orang adalah campuran dari ketakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia adalah gerak menuju Allah, tapi juga terpisah atau terasing dari Allah. Manusia dapat menyatakan YA kepada Tuhan dalam iman, atau mengatakan TIDAK.  Jika ia mengatakan YA, ia akan menjadi yang ia ada. Manusia hidup dalam dua dimensi sekaligus, yaitu keabadian dan waktu.
Kedua dimensi itu bertemu dalam saat”’. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dalam “saat”, yaitu saat pilihan.
Pilihan itu suatu loncatan dari waktu ke keabadian.

Subjektivitas dan Eksistensi Tugas
       Eksistensi manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dn religius.
Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggung jawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Untuk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.

Publik dan Individu
       Pendapat umum kerap didukung oleh khalayak ramai yang anonim belaka. Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata.
       Orang sering berusaha menggabungkan diri dalam kelompok dengan mengumpul tanda tangan. Ini bukti orang itu tidak berani tampil sendiri secara berarti. Mereka itu orang-orang lemah. Mengandalkan diri pada kekuatan numerik. Ini adalah kelemahan etis. Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain.
“ Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan. Kalau tidak, penggabungan individu yang lemah sama memuakkan seperti perkawinan antara anak - anak”

 

Pandangan Jean Paul 
  

 

    Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tdk punya kesadaran. 
  Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
   Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggung jawab.
   Tuhan tidak bisa dimintai tanggung jawab . Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggung jawab.
   Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
   Beberapa kenyataan (kefaktaan) yang mengurangi penghanyatan kebebasan :
  • Tempat kita berada : situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
  • Masa lalu : tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
  • Lingkungan sekitar (Umwelt)
  • Kenyataan adanya sesama manusia dg eksistensinya sendiri.
  • Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Walaupun kefaktaan ini melekat dlm eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tidak bisa dikurangi atau ditiadakan.
Kebutuhan manusia
  Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat sematamata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.

Komunikasi dan Cinta
    Komunikasi : suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah-seolah membekukan orang lain.  Terjadi saling pembekuan sehingga masing-masing jadi objek.
    Cinta : bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.






No comments:

Post a Comment