Wednesday, 12 November 2014

Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja



Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja

     Remaja adalah masa ketika seseorang menuju dewasa. Pada masa ini organ-organ reproduksi manusia mulai matang. Hal ini juga berpengaruh terhadap hormon, sehingga terjadi perubahan pada perilaku seksual remaja. Salah satu perilaku remaja yang cukup banyak terjadi saat ini adalah perilaku seksual pranikah. Pada tahun 2008, Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) melakukan penelitian terhadap 1.660 mahasiswi di Yogyakarta. Berdasarkan penelitian tersebut sebanyak 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah melakukan seks bebas, dan 98 orang diantaranya mengaku pernah melakukan aborsi (Munir, 2010). Perilaku ini memiliki dampak yang tidak baik terhadap perkembangan dan psikologi remaja, sehingga dibutuhkan pencegahan agar perilaku ini tidak terjadi.

Definisi Remaja
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, remaja adalah seseorang yang mulai dewasa, dan sudah sampai umur untuk kawin (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014). Muss (dikutip dalam Sarwono, 2008) mengatakan “Remaja dalam arti adolescence (inggris)  berasal dari kata latin adolescere yang artinya tumbuh kearah kematangan” (h. 8). Sedangkan pengertian adolescence (remaja) dalam kamus Webster’s New World (1996) adalah masa diantara masa puber dan dewasa (Webster’s New World, 1996).
     Adapun pengertian remaja menurut WHO (dikutip dalam Sarwono, 2008) remaja adalah suatu masa di mana organ-organ seksual menuju kematangan, perkembangan psikologi dan identifikasi menuju dewasa, serta peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi pada keadaan yang lebih mandiri.
     Menurut Monks (dikutip dalam Kustanti, 2014) mengatakan “secara global fase remaja berlangsung pada usia 12-21, yang dibagi menjadi fase remaja awal, remaja pertengahan, dan remaja akhir” (h. 334).
     Dapat disimpulkan bahwa remaja adalah masa menuju kematangan, di mana organ-organ reproduksi manusia mulai berkembang yang berlangsung dari usia 12 tahun hingga 21 tahun.

Definisi Perilaku Seks Pranikah
     Dame, Widyana, dan Abdullah (2009) mengatakan “perilaku seksual adalah dorongan (hasrat) seksual dengan tujuan mencapai kepuasan atau kenikmatan seksual yang dimulai dengan perasaan tertarik baik dengan sejenis maupun lawan jenis, bercumbu sampai melakukan hubungan seksual” (h. 177).
     Sedangkan perilaku seks pranikah munurut Sarwono (dikutip dalam Kustanti, 2014) “tingkah laku yang berhubungan dengan perilaku seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya pernikahan” (h. 334-343).
     Menurut Desmita (2005) “dalam mengekspresikan dorongan seksual dalam berbagai tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktivitas berpacaran, berkencan, bercumbu sampai dengna kontak seksual” (h. 222).
     Menurut Santrock (dikutip dalam Kustanti, 2014) “perilaku seks pranikah biasanya diawali dengan melakukan necking, petting, dan hubungan intim” (h. 334-343). Sedangkan menurut Hurlock (dikutip dalam kustanti, 2014) “kategori seks pranikah adalah berciuman, bercumbu, dan bersenggama” (h.334-343 ).
Faktor Penyebab Perilaku Seks Pranikah pada Remaja
     Ada beberapa faktor yang menyebabkan perilaku seks pranikah pada remaja, yaitu (a) meningkatnya libido seksual, dalam upaya mengisi peran sosialnya yang baru, seorang remaja mendapat motivasinya dari meningkatnya energi seksual atau libido; (b) penundaan usia perkawinan, adanya Undang-undang yang mengatur usia perkawinan di Indonesia, yaitu Undang-undang No. 1/1974 pasal 7 Ayat 1 tentang usia yang di capai untuk melaksanakan perkawinan, dan pasal 6 Ayat 2 tentang izin orangtua dalam perkawinan yang dilaksanakan di bawah umur 21 tahun. Selain itu ada juga faktor lain, yaitu cost dan barriers. Cost adalah beban yang akan di terima saat seseorang melakukan perkawinan, sedangkan Barries adalah hambatan-hambatan yang akan dihadapi saat perkawinan; (c) tabu-larangan, adanya pengaruh agama menyebabkan sikap negative terhadap seks. Orangtua dan pendidik tidak mau berterus terang kepada anak atau anak didiknya tentang seks, sehingga seks menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan; (d) kurangnya informasi tentang seks, tabunya pembicaraan mengenai seks, memngakibatkan remaja mendapatkan informasi tentang seks yang salah contohnya informasi yang berasal dari temannya; dan (e) pergaulan yang makin bebas, pegaulan yang semakin bebas antarjenis  membuat kecemasan terhadap orangtua tentang keselamatan anak-anak remaja dari ancaman bahaya seks pranikah (Sarwono, 2008).
     Menurut Dianawati (dikutip dalam Dame et al., 2009) “faktor-faktor yang mempengaruhi kecendrungan prilaku seksual remaja yang paling utama adalah kurangnya informasi pendidikan tentang seksualitas yang didapat remaja dari sekolah maupun keluarga” (h. 175).
     Sedangkan menurut Setyowati (dikutip dalam Israwati, Rachman, dan Ibnu, 2014) ”lingkungan dan tempat yang nyaman merupakan faktor pendukung untuk melakukan seks bebas atau seks pranikah (h. 3).

Dampak Seks Pranikah pada Remaja
     Seks pranikah memiliki dampak negatif pada kehidupan selanjutnya baik dalam fisik, psikologis, dan psikososial. Secara fisik, dampak seks pranikah adalah kehamilan, aborsi, tertular virus HIV-AIDS, penyakit kelamin menular, dan kanker rahim menjadi risiko yang akan ditanggung oleh pelaku seks pranikah. Adapun dampak psikologi yang muncul oleh pelaku seks pranikah seperti rasa bersalah, marah, dan depresi. Sedangkan kosnekuensi psikososial juga akan dihadapi, misalnya terhambatnya atau terhentinya proses penyelesaian studi, peran sosial yang tiba-tiba berubah bila sampai terjadi kehamilan, sanksi moral dan sosial dari masyarakat juga menjadi beban yang tidak mudah (Kustanti, 2014).

Pencegahan Seks Pranikah pada Remaja
     Pencegahan seks pranikah pada remaja dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan seks. Pengertian pendidikan seks menurut Sarwono (2008) “pemberian informasi mengenai seluk-beluk anatomi dan proses faal dari reproduksi manusia, dan salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi, dan perasaan berdosa” (h. 190).
     Sedangkan menurut King (2014) pendidikan seks memberikan pengetahuan kepada murid tentang perilaku seksual, kontrol kelahiran, penggunaan kondom untuk pencegahan penyakit menular, dan menunda aktivitas seks untuk sementara.
     Berdasarkan pengertian di atas, pendidikan seks adalah suatu cara untuk memberikan informasi mengenai seks, untuk mencegah adanya hal-hal yang tidak diinginkan.
     Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fox & Inazu (dikutip dalam Sarwono, 2008) mengatakan “jika komunikasi ibu dan anak dilakukan sebelum anak melakukan seks, hubungan seks dapat dicegah. Makin awal komunikasi itu dilakukan, fungsi pencegahannya makin nyata. Akan tetapi, jika dilakukan setelah hubungan seks terjadi, komunkasi itu justru mendorong lebih sering dilakukannya hubungan seks” (h. 192). Hal ini menunjukkan pendidikan seks merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya seks pada remaja.

Simpulan
     Perilaku seks pranikah pada remaja adalah dorongan untuk melepaskan dorongan (hasrat) sesksual yang dialami oleh remaja yang belum menikah. Faktor yang memengaruhi perilaku seks pranikah adalah libido yang meningkat, penundaan usia perkawinan, tabu-larangan, kurangnya informasi mengenai seks, dan pergaulan yang bebas. Selain itu teknologi yang berkembang, peran orangtua dan pendidikan yang tidak terbuka juga mempengaruhi, sehingga remaja malah mendapat informasi yang tidak benar.
     Perilaku seksual pranikah ini dapat menyebabkan dampak pada fisik, seperti kehamilan, kanker, penyakit menular seksual, dan lain lain. Selain itu juga dapat berdampak pada psikologis seperti depresi, stress dan lain lain. Untuk mencegah adanya perilaku seksual pranikah dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan seksual dari kecil, agar anak tidak mendapatkan informasi yang tidak benar.



















Daftar Pustaka

Dame, Y. R., Widyana, R., & Abdullah, S. M. (2009). Pengaruh pendidikan seksualitas dasar dengan metode dinamika kelompok terhadap penurunan kecendrungan perilaku seksual pada remaja. InSight, 7(2), 171-187.
Desmita. (2005). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya
King, L. A. (2014). The science of psychology (3rd ed.). NY: McGraw-Hill 
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2014). Diunduh dari  http://kbbi.web.id/remaja
Kustanti, E. R. (2014). Intensi melakukan seks pranikah pada mahasiswa ditinjau
Munir, M. (2010) Tiap tahun, remaja seks pra nikah meningkat. Diunduh dari
Sarwono, S. W. (2008). Definisi Remaja. Psikologi remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Webster’s New World (3rd ed.). (1996). In V. Neufeldt & D. B. Guralnik. New York, NY: Simon & Schuster

Thursday, 6 November 2014

Cybercrime



Cybercrime

Definisi Cybercrime
     Definisi cybercrime menurut Wikipedia. Cybercrime (Kejahatan dunia  maya) adalah istilah yang digunakan pada kejahatan yang menggunakan  komputer atau jaringan komputer sebagai alat untuk menjalankan kejahatan.  (Wikipedia,  2014)
     Definisi cybercrime menurut Brenner. Cybercrime adalah kejahatan yang  menggunakan komputer sebagai alat, dan komputer sebagai target kejahatan.  (Brenner, 2013)

Tuesday, 7 October 2014

Pertemuan X, Filsafat Psikologi

Senin, 6 Oktober 2014


pengertian Filsafat Ilmu
 
Pengertian filsafat ilmu menurut beberapa ahli :
  • Robert Ackerman : “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual).

Pertemuan IX, EKSISTENSI

jumat, 3 oktober 2014

Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.Manusia bereksistensi barulah manusia menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya

}  Beberapa tokoh filsafat yang menganut gaya eksistensialisme, adalah
Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dan masih banyak lagi.

Pertemuan VIII, Intelegensi Manusia


Kompleksitas Pengetahuan Manusia
ž  Pengetahuan merupakan nilai bagi makhluk yang mempunyainya baik bagi manusia, malaikat ataupun binatang, pengetahuan adalah suatu kekayaan dan kesempurnaan. Bagi manusia seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibandingkan dengan yang tidak tahu apa-apa, dengan pengetahuan menjadikan dia berprestasi secara lebih baik dan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Ada suatu korelasi antara pengetahuan dan “ada”, antara tingkat pengetahuan suatu “pengada” dan tingkat kepenuhan yang dapat diberikannya kepada sksistensinya (Leahy.2001:95).

Friday, 26 September 2014

Pertemuan VIII, KEBEBASAN




Jiwa dan Kebebasan

Eksistensi dalam tubuh untuk menhadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya. Jiwa berhubungan dengan kehendak bebas, sehingga karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas. Kebebasan menjadi dasar bagi manusia dan merupakan penting humanism.

Pertemuan VIII, Manusia dan Afektivitasnya


Manusia dan Efektivitasnya




Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia. Manusia dan tumbuhan berbeda, hal yang membedakannya dalah afektivitasnya. Afektivitas membuat manusia eksis di dunia, berpartisipasi dengan orang lain. Afektivitas mendorong manusia untuk mencintai, mengabdi, dan kreatif. Cara kita hadir di dunia diperdalam oleh afetivitas. Afektivitas termasuk kegiatan yang kompleks.

Tugas Dialog


hai teman-teman, kali ini dinda memposting tentang tugas blog, Hehehe :)
dialognya tentang Badan dan Jiwa


Thursday, 25 September 2014

Pertemuan VII, Filsafat Manusia : Jiwa dan Manusia






Badan dan Jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.
ada dua lairan yang melihat badan dan jiwa secara bertolak belakang ; monoisme dan dualisme.

Wednesday, 24 September 2014

Pertemuan VI, FILSAFAT MANUSIA



FILSAFAT MANUSIA

Filsafat merupakan ilmu yang mencari kebenaran dan mencintai kebijaksanaan. Filsafat sebagai hasil perenungan, kritik,  ilmu yang mencari kebenaran secara metodik, sistematis, rasional, runtut, radikal,dan bertanggung jawab.


“philosophy is for those who are willing to be disturbed with a creative disturbance… philosophy is for those who still have the capacity to wonder" – (philosophy an introduce to the art of wondering by James L. Christian Prelude)

Pertemuan VI, ETIKA dan MORAL




Sebelumnya etika dan moral telah dibahas. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti watak. Sedangkan moral berasal dari bahasa latin yaitu mos (tunggal), moris (jamak) yang berarti kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.
Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang dimaksudkan  adalah perbuatan yang dilakukan secara bebas dan sadar. Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

Tuesday, 23 September 2014

PERTEMUAN V, ETIKA dan MORAL



Etika dan moral

Secara etimologi etika dan moral hampir sama. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos, sedangkan moral berasal dari bahsa latin. Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola prilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun kelompok.

PERTEMUAN V, KESESATAN BERPIKIR



Kesesatan pemikiran (fallacia)

Falacia adalah kesalahan pemikiran dalam logika, bukan karena fakta tetapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat. Contoh kesalahan fakta :‘presiden AS Barack Obama lahir di Indonesia, ahmad lahir dengan bintang Gemini  maka hidupnya dengan persoalan.
Ada juga kesalahan penalaran. Kesalahan penalaran pun terbagi dua, yaitu formal dan informal. Kesalahan penalaran formal terjadi karena melanggar rumus-rumus logika. Sedangkan kesalahan  penalatan informal adalah kesesatan dalam bahasa.

Pertemuan V, SILOGISME



Silogisme

Silogisme adalah penyimpulan dari dua premis-premis yang disimpulkan menjadi keputusan yan g baru. Prinsipnya, bila premis benar maka kesimpulan benar.
Silogisme terbagi menjadi dua, yaitu silogisme kategoris dan silogisme hipotesis. Silogisme kategoris dimana premis dan kesimpulannya tanpa syarat. Sedangkan silogisme hipotesis adalah premis mayornya terdiri dari keputusan disyungtif. 

Monday, 22 September 2014

Pertemuan IV, Logika Induktif dan Deduktif



Logika terbagi dua, yaitu logika induksi dan deduksi. Logika induktif adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/particular tertentu untuk menarik kesimplan umum tertentu. kesimpulan tersebut merupakan generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan, namun kesimpulan umum harus dianggap sebagai bersifat sementara karena ciri dasar induktif tidak lengkap. Persamaan penalaran induktif dengan deduktif adalah argumentasi keduanya terdiri dari premis-premis yang mendukung kesimpulan. Sedangkan perbedaannya dalah penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis benar tapi kesimpulan salah, kaena argumentasi penalaran nduktif tidak membiktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan berissi suatu kemungkinan. Maka argumentasi dalam penalaran induksi tidak dinilai sebgai sahih/valid atau tidak sahih/valid tapi berdasarkan probabilitas.

Pertemuan IV, LOGIKA





Logika berasal dari bahasa yunani logikos yang berarti sesuatu yang diungkapkan atau diutarakan lewat bahasa. Istilah pertama dugunakan pertama kali oleh zeno dari citum (334-262 SM)
Cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, dan membahas asas-asas atau aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan. Secara singkat yaitu berpikir yang lurus (tepat)

pertemuan IV, Konfirmasi, Inferensi, Konstruksi Teori



Sesi  ke-2
Konfirmasi                                                                                                             

Konfirmasi secara etimologi adalah confirmation yang berarti penegasan, memperkuat. Fungsinya dalam filsafat ilmu pengetahuan adalah sebagai penjelas, penegas, dan memperkuat apa yang didapat dari kenyataan atau fakta. Bersifat interpretative serta memberi makna tentang sesuatu. Konfrimasi terbagi dalam dua aspek yaitu konfirmasi kuantitatif dan kualitatif. Untuk membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan maka dibuthkan aspek kuatitatif. Sedangkan aspek kualitatif untuk menunjukkan kebenaran nila kuantitatif tidak bisa di laksanakan. Contohnya penelitian yang menjalankan model wawancara mendalam (dept interview).


Pertemuan IV, Subyektivisme dan Obyektivisme



Pertemuan ke-4
Sesi 1
Subyektivisme dan obyektivisme.

Pada pertemuan kali ini, kbk blok filsafat membahas tentang subyektivisme dan obyrktivisme. Perlu di ketahui bahwa kata isme merupakan aliran yang menekankan. Jadi pengetian dari subyektivisme adalah aliran-aliranyang menekankan pengetahuan pada individu. Sedangkan obyektivisme adalah pandangan yang menekankan butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai kompleks

Saturday, 20 September 2014

Pertemuan IV, Critical Thinking



CRITICAL  THINKING

Pengertian berpikir kritis

-Chaffe, 1990 => merasionalkan kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati atau memeriksa proses berpikir sebagai dasar mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.

Thursday, 18 September 2014

Pendapat : Pergaulan Bebas



Berdasarkan metode rasionalisme, Pergaulan merupakan suatu proses interaksi antar individu. Seperti kata Aristoteles bahwa manusia adalah mahluk social. Dimana manusia tidak bisa hidup sendiri. Sedangkan pergaulan bebas adalah suatu intraksi antar individu untuk membentuk suatu hubungan. Sebagaimana kita ketahui setiap manusia memiliki haknya sendiri-sendiri, namun hal itu di batas karena adanya norma-norma yang berlaku.

Pendapat : Polemik PILKADA Langsung dan Tidak Langsung



Dulu sebelum berlakunya undang-undang No. 32 tahun 2004, PILKADAa dilaksanakan secara tidak langsung. Kepala daerah dipilih oleh DPRD namun sejak tahun 2005 PILKADA dilakukan secara langsung. Namun akhir-akhir ini pemerintah ingin merubah aturan tersebut. Bahkan usulan  tersebut di dukung oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang bergabung dalam Koalisi Merah Putih.

Pertemuan III, Kebenaran




Kebenaran sangatlah penting dan berharga, sehingga banyak orang yang rela mengeluarkan harga yang mahal untuk menyingkap suatu kebenaran. Untuk menilai sutu penyataan maka digunakanlah istilah benar-salah. Pengetahuan bisa di nilai betul atau salah karena pada dasarnya pengetahuan merupakan gabungan atau perpaduan dari sistim pernyataan.

Pertemuan III, Epistemologi

Epistime berasal dari bahasa yunani yaitu epistime dan logos. Epistime berarti pengetahuan, percakapan sedangkan logos berarti ilmu. Jadi Epistemologi adalah teori yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengtahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.

Tuesday, 16 September 2014

Pertemuan II, Aksiologi




sesi pertama

Pada pertemuan ke-2 sesi pertama, di isi oleh Pak Mikha yang menjelaskan AKSIOLOGI.
Aksiolgi berasal dari bahasa yunani yaitu axios dan logos. Axios berarti nilai sedangkan logos adalah ilmu. Nilai berarti berkaitan dengan kegunaan. Aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Sehingga aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.


Pertemuan II, METAFISIKA




Sesi ke-2



Terdapat pembagian filsafat yaitu; tahap awal dimana pada tahap ini filsafat merupakan induk dari segala ilmu lalu makin rasinal dan sistematis, kemudian pengetahuan manusia semakin banyak akan tetapi semakin khusus, lalu disiplin ilmu memisahkan diri dari filsafat namun permasalahan semakin banyak sehingga dibagia sesuai dengan kelompok permasalahan, yang disebut dengan filsafat.
Adapun tokoh-tokoh yang berjasa pada pembagian filsafat, diantaranya; Aristoteles, Christian Wolf (1679-1754), Will Durant (The Story of Philosophy, 196), Eeste Nederlanse Systematic Ingerichte Encyclopaedie, dan The World University Encyclopedia

Monday, 15 September 2014

Pertemuan I, Pengantar Filsafat


introduce with filsafat

filsafat berasal dari bahasa yunani, yaitu philo (pencari/kekasih/sahabat) dan Sophia (kebijaksanaan/kearifan/pengetahuan)  dapat diartikan sebagai “cinta akan pengetahuan”


definsi filsafat 

-          Filsuf Pra-Sokratik = ilmu berupaya memahami hakikat (orkhe/asal mula)alam dan realitas dengan mengandalkan akal budi
-          Plato = ilmu yang berusaha meraih kebenaran asli dan murni
-          Aristoteles = ilmu yang senantiasa mencari prinsip dan penyebab realitas yang ada.
-          Rene Descartes (filsuf perancis) =pangkal penyelidikannya tuhan, alam, dan manusia.
-          William james (filsuf amerika) = upaya luar biasa hebat untuk berpikir jelas dan terang.


Identitas

Nama : Dinda Ayu Rahmadani
Nim : 705140137
saya adalah mahasiswa semester 1 Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara