Psikologi berasal dari bahasa yunani yaitu, psyche (jiwa) dan logos (ilmu). Secara etimologi dapat disimpulkan bahwa psikologi merupakan ilmu jiwa. Pengertian psikologi tidak hanya tentang jiwa saja, terdapat berbagai macam pendapat mengenai pengertian psikologi. Namun, secara keseluruhan psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari dan mengobservasi tingkah laku manusia, dan proses mental.
Sunday, 31 July 2016
Stress
Definisi stress
Menurut Departemen Pendidikan Nasional dikutip dalam KBBI (2008) “Stress adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor” (h. 1341). Menurut Greenberg (2005) stress adalah pola emosi dan reaksi psikologis yang terjadi berdasarkan respon dari dalam atau luar organisasi.
Nicotine
Definisi
Salah satu zat adiktif yang di legalkan sepenuhnya oleh hukum untuk
digunakan oleh orang dewasa sampai remaja adalah nicotine. Nicotine adalah
alkaloid yang ditemukan dalam tembakau. Rokok merupakan salah satu
pengantar nicotine yang paling popular, dan menerima zat tersebut ke otak
dalam hitungan detik (Hoeksema, 2014).
Salah satu zat adiktif yang di legalkan sepenuhnya oleh hukum untuk
digunakan oleh orang dewasa sampai remaja adalah nicotine. Nicotine adalah
alkaloid yang ditemukan dalam tembakau. Rokok merupakan salah satu
pengantar nicotine yang paling popular, dan menerima zat tersebut ke otak
dalam hitungan detik (Hoeksema, 2014).
Wednesday, 12 November 2014
Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja
Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja
Remaja adalah masa ketika seseorang menuju
dewasa. Pada masa ini organ-organ reproduksi manusia mulai matang. Hal ini juga
berpengaruh terhadap hormon, sehingga terjadi perubahan pada perilaku seksual remaja.
Salah satu perilaku remaja yang cukup banyak terjadi saat ini adalah perilaku
seksual pranikah. Pada tahun 2008, Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta
Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) melakukan penelitian
terhadap 1.660 mahasiswi di Yogyakarta. Berdasarkan penelitian tersebut sebanyak
97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah melakukan seks bebas, dan 98 orang
diantaranya mengaku pernah melakukan aborsi (Munir, 2010). Perilaku ini
memiliki dampak yang tidak baik terhadap perkembangan dan psikologi remaja,
sehingga dibutuhkan pencegahan agar perilaku ini tidak terjadi.
Definisi Remaja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, remaja
adalah seseorang yang mulai dewasa, dan sudah sampai umur untuk kawin (Kamus
Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014). Muss (dikutip dalam Sarwono, 2008)
mengatakan “Remaja dalam arti adolescence
(inggris) berasal dari kata latin adolescere yang artinya tumbuh kearah
kematangan” (h. 8). Sedangkan pengertian adolescence
(remaja) dalam kamus Webster’s New World (1996) adalah masa diantara masa puber
dan dewasa (Webster’s New World, 1996).
Adapun pengertian remaja menurut WHO
(dikutip dalam Sarwono, 2008) remaja adalah suatu masa di mana organ-organ
seksual menuju kematangan, perkembangan psikologi dan identifikasi menuju
dewasa, serta peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi pada keadaan yang
lebih mandiri.
Menurut Monks (dikutip dalam Kustanti, 2014)
mengatakan “secara global fase remaja berlangsung pada usia 12-21, yang dibagi
menjadi fase remaja awal, remaja pertengahan, dan remaja akhir” (h. 334).
Dapat disimpulkan bahwa remaja adalah masa
menuju kematangan, di mana organ-organ reproduksi manusia mulai berkembang yang
berlangsung dari usia 12 tahun hingga 21 tahun.
Definisi Perilaku Seks Pranikah
Dame, Widyana,
dan Abdullah (2009) mengatakan “perilaku seksual adalah dorongan (hasrat)
seksual dengan tujuan mencapai kepuasan atau kenikmatan seksual yang dimulai
dengan perasaan tertarik baik dengan sejenis maupun lawan jenis, bercumbu
sampai melakukan hubungan seksual” (h. 177).
Sedangkan perilaku
seks pranikah munurut Sarwono (dikutip dalam Kustanti, 2014) “tingkah laku yang
berhubungan dengan perilaku seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang
dilakukan sebelum adanya pernikahan” (h. 334-343).
Menurut Desmita (2005) “dalam
mengekspresikan dorongan seksual dalam berbagai tingkah laku seksual, mulai
dari melakukan aktivitas berpacaran, berkencan, bercumbu sampai dengna kontak
seksual” (h. 222).
Menurut Santrock (dikutip dalam Kustanti,
2014) “perilaku seks pranikah biasanya diawali dengan melakukan necking, petting, dan hubungan intim”
(h. 334-343). Sedangkan menurut Hurlock (dikutip dalam kustanti, 2014) “kategori
seks pranikah adalah berciuman, bercumbu, dan bersenggama” (h.334-343 ).
Faktor Penyebab Perilaku Seks Pranikah
pada Remaja
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
perilaku seks pranikah pada remaja, yaitu (a) meningkatnya libido seksual,
dalam upaya mengisi peran sosialnya yang baru, seorang remaja mendapat motivasinya
dari meningkatnya energi seksual atau libido; (b) penundaan usia perkawinan,
adanya Undang-undang yang mengatur usia perkawinan di Indonesia, yaitu
Undang-undang No. 1/1974 pasal 7 Ayat 1 tentang usia yang di capai untuk
melaksanakan perkawinan, dan pasal 6 Ayat 2 tentang izin orangtua dalam
perkawinan yang dilaksanakan di bawah umur 21 tahun. Selain itu ada juga faktor
lain, yaitu cost dan barriers. Cost adalah beban yang akan di terima saat seseorang melakukan
perkawinan, sedangkan Barries adalah
hambatan-hambatan yang akan dihadapi saat perkawinan; (c) tabu-larangan, adanya
pengaruh agama menyebabkan sikap negative terhadap seks. Orangtua dan pendidik
tidak mau berterus terang kepada anak atau anak didiknya tentang seks, sehingga
seks menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan; (d) kurangnya informasi tentang
seks, tabunya pembicaraan mengenai seks, memngakibatkan remaja mendapatkan
informasi tentang seks yang salah contohnya informasi yang berasal dari
temannya; dan (e) pergaulan yang makin bebas, pegaulan yang semakin bebas
antarjenis membuat kecemasan terhadap
orangtua tentang keselamatan anak-anak remaja dari ancaman bahaya seks pranikah
(Sarwono, 2008).
Menurut Dianawati (dikutip dalam Dame et
al., 2009) “faktor-faktor yang mempengaruhi kecendrungan prilaku seksual remaja
yang paling utama adalah kurangnya informasi pendidikan tentang seksualitas
yang didapat remaja dari sekolah maupun keluarga” (h. 175).
Sedangkan menurut Setyowati (dikutip dalam
Israwati, Rachman, dan Ibnu, 2014) ”lingkungan dan tempat yang nyaman merupakan
faktor pendukung untuk melakukan seks bebas atau seks pranikah” (h. 3).
Dampak Seks Pranikah pada Remaja
Seks pranikah memiliki dampak negatif pada
kehidupan selanjutnya baik dalam fisik, psikologis, dan psikososial. Secara
fisik, dampak seks pranikah adalah kehamilan, aborsi, tertular virus HIV-AIDS,
penyakit kelamin menular, dan kanker rahim menjadi risiko yang akan ditanggung
oleh pelaku seks pranikah. Adapun dampak psikologi yang muncul oleh pelaku seks
pranikah seperti rasa bersalah, marah, dan depresi. Sedangkan kosnekuensi
psikososial juga akan dihadapi, misalnya terhambatnya atau terhentinya proses
penyelesaian studi, peran sosial yang tiba-tiba berubah bila sampai terjadi
kehamilan, sanksi moral dan sosial dari masyarakat juga menjadi beban yang
tidak mudah (Kustanti, 2014).
Pencegahan Seks Pranikah pada Remaja
Pencegahan seks pranikah pada remaja dapat
dilakukan dengan memberikan pendidikan seks. Pengertian pendidikan seks menurut
Sarwono (2008) “pemberian informasi mengenai seluk-beluk anatomi dan proses
faal dari reproduksi manusia, dan salah satu cara untuk mengurangi atau
mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif
yang tidak diharapkan, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit
menular seksual, depresi, dan perasaan berdosa” (h. 190).
Sedangkan menurut King (2014) pendidikan
seks memberikan pengetahuan kepada murid tentang perilaku seksual, kontrol
kelahiran, penggunaan kondom untuk pencegahan penyakit menular, dan menunda
aktivitas seks untuk sementara.
Berdasarkan pengertian di atas, pendidikan
seks adalah suatu cara untuk memberikan informasi mengenai seks, untuk mencegah
adanya hal-hal yang tidak diinginkan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fox
& Inazu (dikutip dalam Sarwono, 2008) mengatakan “jika komunikasi ibu dan
anak dilakukan sebelum anak melakukan seks, hubungan seks dapat dicegah. Makin
awal komunikasi itu dilakukan, fungsi pencegahannya makin nyata. Akan tetapi,
jika dilakukan setelah hubungan seks terjadi, komunkasi itu justru mendorong
lebih sering dilakukannya hubungan seks” (h. 192). Hal ini menunjukkan
pendidikan seks merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk mencegah
terjadinya seks pada remaja.
Simpulan
Perilaku seks pranikah pada remaja adalah
dorongan untuk melepaskan dorongan (hasrat) sesksual yang dialami oleh remaja
yang belum menikah. Faktor yang memengaruhi perilaku seks pranikah adalah libido
yang meningkat, penundaan usia perkawinan, tabu-larangan, kurangnya informasi
mengenai seks, dan pergaulan yang bebas. Selain itu teknologi yang berkembang,
peran orangtua dan pendidikan yang tidak terbuka juga mempengaruhi, sehingga
remaja malah mendapat informasi yang tidak benar.
Perilaku
seksual pranikah ini dapat menyebabkan dampak pada fisik, seperti kehamilan,
kanker, penyakit menular seksual, dan lain lain. Selain itu juga dapat
berdampak pada psikologis seperti depresi, stress dan lain lain. Untuk mencegah
adanya perilaku seksual pranikah dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan
seksual dari kecil, agar anak tidak mendapatkan informasi yang tidak benar.
Daftar Pustaka
Dame, Y. R.,
Widyana, R., & Abdullah, S. M. (2009). Pengaruh pendidikan seksualitas dasar
dengan metode dinamika kelompok terhadap penurunan kecendrungan perilaku
seksual pada remaja. InSight, 7(2),
171-187.
Desmita.
(2005). Psikologi perkembangan.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Israwati.,
Rachman, W. A., & Ibnu, I. F. (2014). Perilaku
seks pra-nikahh mahasiswa pada sekolah tinggi manajemen dan ilmu komputer bina
bangsa kendari.(studi kasus). Diunduh dari http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBsQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.unhas.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F123456789%2F6167%2Fjurnal%2520israwati.pdf%3Fsequence%3D1&ei=7WdcVPfPJ5CVuASmjYLYCQ&usg=AFQjCNEyIX-XxHIl3Cq185WC1iyQA8Trog&sig2=7vU9Fmkvb-MsgicdUPTdPA&bvm=bv.79184187,d.c2E
King,
L. A. (2014). The science of psychology
(3rd ed.). NY: McGraw-Hill
Kustanti, E. R. (2014). Intensi melakukan seks pranikah pada mahasiswa ditinjau
dari efektivitas komunikasi
interpersonal orangtua anak. Diunduh dari http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=31&ved=0CBoQFjAAOB4&url=http%3A%2F%2Fpublikasiilmiah.ums.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F123456789%2F3965%2FB1.pdf%3Fsequence%3D1&ei=-JRhVO-rLdbkuQTLioHgDA&usg=AFQjCNEwjR4QXs4ifBZxjwzUOIj1P2PB-g&bvm=bv.79189006,d.c2E
Munir,
M. (2010) Tiap tahun, remaja seks pra
nikah meningkat. Diunduh dari
Sarwono,
S. W. (2008). Definisi Remaja. Psikologi
remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Webster’s New
World (3rd ed.). (1996). In V. Neufeldt & D. B. Guralnik. New
York, NY: Simon & Schuster
Thursday, 6 November 2014
Cybercrime
Cybercrime
Definisi Cybercrime
Definisi cybercrime menurut Wikipedia. Cybercrime
(Kejahatan dunia maya) adalah istilah
yang digunakan pada kejahatan yang menggunakan
komputer atau jaringan komputer sebagai alat untuk menjalankan kejahatan. (Wikipedia,
2014)
Definisi
cybercrime menurut Brenner. Cybercrime adalah kejahatan yang menggunakan komputer sebagai alat, dan
komputer sebagai target kejahatan.
(Brenner, 2013)
Subscribe to:
Comments (Atom)