Wednesday, 12 November 2014

Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja



Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja

     Remaja adalah masa ketika seseorang menuju dewasa. Pada masa ini organ-organ reproduksi manusia mulai matang. Hal ini juga berpengaruh terhadap hormon, sehingga terjadi perubahan pada perilaku seksual remaja. Salah satu perilaku remaja yang cukup banyak terjadi saat ini adalah perilaku seksual pranikah. Pada tahun 2008, Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) melakukan penelitian terhadap 1.660 mahasiswi di Yogyakarta. Berdasarkan penelitian tersebut sebanyak 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah melakukan seks bebas, dan 98 orang diantaranya mengaku pernah melakukan aborsi (Munir, 2010). Perilaku ini memiliki dampak yang tidak baik terhadap perkembangan dan psikologi remaja, sehingga dibutuhkan pencegahan agar perilaku ini tidak terjadi.

Definisi Remaja
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, remaja adalah seseorang yang mulai dewasa, dan sudah sampai umur untuk kawin (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014). Muss (dikutip dalam Sarwono, 2008) mengatakan “Remaja dalam arti adolescence (inggris)  berasal dari kata latin adolescere yang artinya tumbuh kearah kematangan” (h. 8). Sedangkan pengertian adolescence (remaja) dalam kamus Webster’s New World (1996) adalah masa diantara masa puber dan dewasa (Webster’s New World, 1996).
     Adapun pengertian remaja menurut WHO (dikutip dalam Sarwono, 2008) remaja adalah suatu masa di mana organ-organ seksual menuju kematangan, perkembangan psikologi dan identifikasi menuju dewasa, serta peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi pada keadaan yang lebih mandiri.
     Menurut Monks (dikutip dalam Kustanti, 2014) mengatakan “secara global fase remaja berlangsung pada usia 12-21, yang dibagi menjadi fase remaja awal, remaja pertengahan, dan remaja akhir” (h. 334).
     Dapat disimpulkan bahwa remaja adalah masa menuju kematangan, di mana organ-organ reproduksi manusia mulai berkembang yang berlangsung dari usia 12 tahun hingga 21 tahun.

Definisi Perilaku Seks Pranikah
     Dame, Widyana, dan Abdullah (2009) mengatakan “perilaku seksual adalah dorongan (hasrat) seksual dengan tujuan mencapai kepuasan atau kenikmatan seksual yang dimulai dengan perasaan tertarik baik dengan sejenis maupun lawan jenis, bercumbu sampai melakukan hubungan seksual” (h. 177).
     Sedangkan perilaku seks pranikah munurut Sarwono (dikutip dalam Kustanti, 2014) “tingkah laku yang berhubungan dengan perilaku seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya pernikahan” (h. 334-343).
     Menurut Desmita (2005) “dalam mengekspresikan dorongan seksual dalam berbagai tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktivitas berpacaran, berkencan, bercumbu sampai dengna kontak seksual” (h. 222).
     Menurut Santrock (dikutip dalam Kustanti, 2014) “perilaku seks pranikah biasanya diawali dengan melakukan necking, petting, dan hubungan intim” (h. 334-343). Sedangkan menurut Hurlock (dikutip dalam kustanti, 2014) “kategori seks pranikah adalah berciuman, bercumbu, dan bersenggama” (h.334-343 ).
Faktor Penyebab Perilaku Seks Pranikah pada Remaja
     Ada beberapa faktor yang menyebabkan perilaku seks pranikah pada remaja, yaitu (a) meningkatnya libido seksual, dalam upaya mengisi peran sosialnya yang baru, seorang remaja mendapat motivasinya dari meningkatnya energi seksual atau libido; (b) penundaan usia perkawinan, adanya Undang-undang yang mengatur usia perkawinan di Indonesia, yaitu Undang-undang No. 1/1974 pasal 7 Ayat 1 tentang usia yang di capai untuk melaksanakan perkawinan, dan pasal 6 Ayat 2 tentang izin orangtua dalam perkawinan yang dilaksanakan di bawah umur 21 tahun. Selain itu ada juga faktor lain, yaitu cost dan barriers. Cost adalah beban yang akan di terima saat seseorang melakukan perkawinan, sedangkan Barries adalah hambatan-hambatan yang akan dihadapi saat perkawinan; (c) tabu-larangan, adanya pengaruh agama menyebabkan sikap negative terhadap seks. Orangtua dan pendidik tidak mau berterus terang kepada anak atau anak didiknya tentang seks, sehingga seks menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan; (d) kurangnya informasi tentang seks, tabunya pembicaraan mengenai seks, memngakibatkan remaja mendapatkan informasi tentang seks yang salah contohnya informasi yang berasal dari temannya; dan (e) pergaulan yang makin bebas, pegaulan yang semakin bebas antarjenis  membuat kecemasan terhadap orangtua tentang keselamatan anak-anak remaja dari ancaman bahaya seks pranikah (Sarwono, 2008).
     Menurut Dianawati (dikutip dalam Dame et al., 2009) “faktor-faktor yang mempengaruhi kecendrungan prilaku seksual remaja yang paling utama adalah kurangnya informasi pendidikan tentang seksualitas yang didapat remaja dari sekolah maupun keluarga” (h. 175).
     Sedangkan menurut Setyowati (dikutip dalam Israwati, Rachman, dan Ibnu, 2014) ”lingkungan dan tempat yang nyaman merupakan faktor pendukung untuk melakukan seks bebas atau seks pranikah (h. 3).

Dampak Seks Pranikah pada Remaja
     Seks pranikah memiliki dampak negatif pada kehidupan selanjutnya baik dalam fisik, psikologis, dan psikososial. Secara fisik, dampak seks pranikah adalah kehamilan, aborsi, tertular virus HIV-AIDS, penyakit kelamin menular, dan kanker rahim menjadi risiko yang akan ditanggung oleh pelaku seks pranikah. Adapun dampak psikologi yang muncul oleh pelaku seks pranikah seperti rasa bersalah, marah, dan depresi. Sedangkan kosnekuensi psikososial juga akan dihadapi, misalnya terhambatnya atau terhentinya proses penyelesaian studi, peran sosial yang tiba-tiba berubah bila sampai terjadi kehamilan, sanksi moral dan sosial dari masyarakat juga menjadi beban yang tidak mudah (Kustanti, 2014).

Pencegahan Seks Pranikah pada Remaja
     Pencegahan seks pranikah pada remaja dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan seks. Pengertian pendidikan seks menurut Sarwono (2008) “pemberian informasi mengenai seluk-beluk anatomi dan proses faal dari reproduksi manusia, dan salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan, seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi, dan perasaan berdosa” (h. 190).
     Sedangkan menurut King (2014) pendidikan seks memberikan pengetahuan kepada murid tentang perilaku seksual, kontrol kelahiran, penggunaan kondom untuk pencegahan penyakit menular, dan menunda aktivitas seks untuk sementara.
     Berdasarkan pengertian di atas, pendidikan seks adalah suatu cara untuk memberikan informasi mengenai seks, untuk mencegah adanya hal-hal yang tidak diinginkan.
     Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fox & Inazu (dikutip dalam Sarwono, 2008) mengatakan “jika komunikasi ibu dan anak dilakukan sebelum anak melakukan seks, hubungan seks dapat dicegah. Makin awal komunikasi itu dilakukan, fungsi pencegahannya makin nyata. Akan tetapi, jika dilakukan setelah hubungan seks terjadi, komunkasi itu justru mendorong lebih sering dilakukannya hubungan seks” (h. 192). Hal ini menunjukkan pendidikan seks merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya seks pada remaja.

Simpulan
     Perilaku seks pranikah pada remaja adalah dorongan untuk melepaskan dorongan (hasrat) sesksual yang dialami oleh remaja yang belum menikah. Faktor yang memengaruhi perilaku seks pranikah adalah libido yang meningkat, penundaan usia perkawinan, tabu-larangan, kurangnya informasi mengenai seks, dan pergaulan yang bebas. Selain itu teknologi yang berkembang, peran orangtua dan pendidikan yang tidak terbuka juga mempengaruhi, sehingga remaja malah mendapat informasi yang tidak benar.
     Perilaku seksual pranikah ini dapat menyebabkan dampak pada fisik, seperti kehamilan, kanker, penyakit menular seksual, dan lain lain. Selain itu juga dapat berdampak pada psikologis seperti depresi, stress dan lain lain. Untuk mencegah adanya perilaku seksual pranikah dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan seksual dari kecil, agar anak tidak mendapatkan informasi yang tidak benar.



















Daftar Pustaka

Dame, Y. R., Widyana, R., & Abdullah, S. M. (2009). Pengaruh pendidikan seksualitas dasar dengan metode dinamika kelompok terhadap penurunan kecendrungan perilaku seksual pada remaja. InSight, 7(2), 171-187.
Desmita. (2005). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya
King, L. A. (2014). The science of psychology (3rd ed.). NY: McGraw-Hill 
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2014). Diunduh dari  http://kbbi.web.id/remaja
Kustanti, E. R. (2014). Intensi melakukan seks pranikah pada mahasiswa ditinjau
Munir, M. (2010) Tiap tahun, remaja seks pra nikah meningkat. Diunduh dari
Sarwono, S. W. (2008). Definisi Remaja. Psikologi remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Webster’s New World (3rd ed.). (1996). In V. Neufeldt & D. B. Guralnik. New York, NY: Simon & Schuster

No comments:

Post a Comment