Definisi
Salah satu zat adiktif yang di legalkan sepenuhnya oleh hukum untuk
digunakan oleh orang dewasa sampai remaja adalah nicotine. Nicotine adalah
alkaloid yang ditemukan dalam tembakau. Rokok merupakan salah satu
pengantar nicotine yang paling popular, dan menerima zat tersebut ke otak
dalam hitungan detik (Hoeksema, 2014).
Nicotine dijalankan pada kedua pusat dan sekeliling saraf. Nicotine
membantu melepaskan beberapa biokimia yang ada dalam otak, termasuk
dopamine, norepinephrine, serotonin, dan endogenous epiods. Walaupun orang-
orang sering mengatakan merokok untuk mengurangi stres, efek fisiologis
nicotine menyerupai melawan atau respon melayang. Beberapa sistem di dalam
tubuh menimbulkan, termasuk kardiovaskular, dan sistem pernafasan
(Hoeksema, 2014).
Salah satu zat adiktif yang di legalkan sepenuhnya oleh hukum untuk
digunakan oleh orang dewasa sampai remaja adalah nicotine. Nicotine adalah
alkaloid yang ditemukan dalam tembakau. Rokok merupakan salah satu
pengantar nicotine yang paling popular, dan menerima zat tersebut ke otak
dalam hitungan detik (Hoeksema, 2014).
Nicotine dijalankan pada kedua pusat dan sekeliling saraf. Nicotine
membantu melepaskan beberapa biokimia yang ada dalam otak, termasuk
dopamine, norepinephrine, serotonin, dan endogenous epiods. Walaupun orang-
orang sering mengatakan merokok untuk mengurangi stres, efek fisiologis
nicotine menyerupai melawan atau respon melayang. Beberapa sistem di dalam
tubuh menimbulkan, termasuk kardiovaskular, dan sistem pernafasan
(Hoeksema, 2014).
Kriteria Penggunaan Nicotine
Menurut American Psychiatric Assocciation dalam DSM IV-TR (APA,
2000) ketergantungan pada nicotine secara umum tidak tampak. Toleransi untuk
nicotine adalah manifestasi oleh efek yang lebih intens pada penggunaan
nicotine pertama kali selama sehari dan absen dari kemuakan dan pusing yang
berulang, meskipun penggunaan zat secara regular.
Menurut DSM-IV- TR (APA, 2000) kriteria untuk nicotine withdrawal di bagi
menjadi beberapa kriteria, yaitu:
A. Setiap hari menggunakan nikotin selama minimal beberapa minggu.
B. Meliputi 4 atau lebih gejala berikut ini, yang dialami dalam waktu 24 jam
setelah menghentikan penggunaan nikotin atau menurunkan dosisnya :
1. Disforia atau mood yang terdepresi.
2. Insomnia.
3. Iritabilitas atau frustasi atau kemarahan.
4. cemas.
5. Sulit untuk konsentrasi.
6. Gelisah.
7. Penurunan denyut nadi.
8. Peningkatan nafsu makan dan berat badan.
C. Gejala pada kriteria B mengakibatkan keadaan klinis yang berbahaya dan
signifikan dalam fungsi social, okupasional dan fungsi lainnya.
D. Gejala-gejala tersebut di atas tidak termasuk adanya kondisi medis umum.
Dampak Nicotine
Penggunaan nicotine dapat memiliki efek yang berbeda pada tubuh, yaitu
(Downs, 2012)
Menurunkan nafsu maka (untuk alasan ini, takut berat badan
mempengaruhi kesediaan orang untuk berhenti merokok);
Meningkatkan mood dan bisa menghilangkan depresi ringan.
Banyak orang merasakan kesejahteraan;
Meningkatkan aktivitas usus;
Menciptakan lebih banyak air liur dan lendir;
Meningkatkan denyut jantung sekitar 10 sampai 20 denyut per
menit;
Meningkatkan tekanan darah dengan 5 sampai 10 mmHg;
Dapat menyebabkan berkeringat, mual, dan diare; dan
Merangsang memori dan kewaspadaan. Orang-orang yang
menggunakan tembakau sering bergantung pada tembakau untuk
membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan
melakukan dengan baik.
Menurut American Psychiatric Assocciation dalam DSM IV-TR (APA,
2000) ketergantungan pada nicotine secara umum tidak tampak. Toleransi untuk
nicotine adalah manifestasi oleh efek yang lebih intens pada penggunaan
nicotine pertama kali selama sehari dan absen dari kemuakan dan pusing yang
berulang, meskipun penggunaan zat secara regular.
Menurut DSM-IV- TR (APA, 2000) kriteria untuk nicotine withdrawal di bagi
menjadi beberapa kriteria, yaitu:
A. Setiap hari menggunakan nikotin selama minimal beberapa minggu.
B. Meliputi 4 atau lebih gejala berikut ini, yang dialami dalam waktu 24 jam
setelah menghentikan penggunaan nikotin atau menurunkan dosisnya :
1. Disforia atau mood yang terdepresi.
2. Insomnia.
3. Iritabilitas atau frustasi atau kemarahan.
4. cemas.
5. Sulit untuk konsentrasi.
6. Gelisah.
7. Penurunan denyut nadi.
8. Peningkatan nafsu makan dan berat badan.
C. Gejala pada kriteria B mengakibatkan keadaan klinis yang berbahaya dan
signifikan dalam fungsi social, okupasional dan fungsi lainnya.
D. Gejala-gejala tersebut di atas tidak termasuk adanya kondisi medis umum.
Dampak Nicotine
Penggunaan nicotine dapat memiliki efek yang berbeda pada tubuh, yaitu
(Downs, 2012)
Menurunkan nafsu maka (untuk alasan ini, takut berat badan
mempengaruhi kesediaan orang untuk berhenti merokok);
Meningkatkan mood dan bisa menghilangkan depresi ringan.
Banyak orang merasakan kesejahteraan;
Meningkatkan aktivitas usus;
Menciptakan lebih banyak air liur dan lendir;
Meningkatkan denyut jantung sekitar 10 sampai 20 denyut per
menit;
Meningkatkan tekanan darah dengan 5 sampai 10 mmHg;
Dapat menyebabkan berkeringat, mual, dan diare; dan
Merangsang memori dan kewaspadaan. Orang-orang yang
menggunakan tembakau sering bergantung pada tembakau untuk
membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan
melakukan dengan baik.
Nicotine dalam Rokok
Menurut NCHS (Papalia & Martorell, 2014) merokok adalah salah satu
penyebab kematian yang dapat dicegah diantara orang dewasa di US, tidak
hanya berhubungan dengan kanker paru-paru, tetapi juga dapat meningkatkan
resiko penyakit jantung, struk, penyakit paru-paru kronis. Periode perkembangan
emerging adulthood lebih suka merokok dari pada kelompok usia yang lain.
Lebih dari 40% dari usia 20-25 tahun melaporkan bahwa mereka menggunakan
rokok. Menurut SAMHSA (SAMSHSA, 2008; Johnston et al., 2012; Hoeksema,
2014) di US, 70% orang-orang dari usia 12 tahun pernah merokok beberapa
waktu dalam hidupnya, dan 28% baru menjadi perokok. Merokok biasanya
dimulai dari masa remaja awal. Sebuah survey pada kelas 12, ditemukan 40%
perokok merokok beberapa waktu dalam hidupnya, dan 10% merokok setiap hari
(Johnston et al., 2012; Hoeksema, 2014).
Hampir dua-tiga dari orang-orang yang merokok menjadi ketergantungan
terhadap nicotine, angkanya menunjukkan lebih tinggi dari pada ketergantungan ,
angkanya menunjukkan lebih tinggi dari pada ketergantungan psychoactive yang
lain (Lopez-Quentero et al., 2001; Hoeksema, 2014). Penggunaan dari tembakau
meningkat di Negara berkembanga (Hoeksema, 2014).
Pada tahun 2000, merokok telah membunuh 5 juta orang sedunia,
setengah dari Negara berkembang dan setengah dari Negara industry (Ezzati &
Lopez, 2004; Papalia & Maroterell, 2014). Meskipun mengetahui resiko dari
merokok, orang-orang tetap merokok. Hal ini dikarenakan merokok adalah
candu. Kecendrungan dari adiksi berkemungkinan dikarenakan genetik (Lerman
et al., 1999; Pianezza, Sellers, & Tynddale, 1998; Sabol et al., 1999; Papalia &
Martorell, 2014).
Meskipun 80% individu yang merokok menunjukkan keinginan untuk
berhenti merokok, dan 35% mencoba untuk berhenti setiap tahunnya, kurang
dari 5% yang sukses tanpa bantuan (APA, 2000)
Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Tjandra Yoga
Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE. Dikutip dalam artikel
health.liputan6.com mengungkapkan delapan fakta mengenai rokok di Indonesia,
yaitu (Sutanto, 2013)
1. Jumlah preokok aktitf di Indonesia terbanyak ke Tiga di dunia setelah
China dan India;
2. Prevalensi perokok: 67,4% (laki-laki) dan 84,5% (perempuan);
3. 61,4 juta perokok di Indonesia;
4. 97 juta warga (non-smoker) terpapar asap rokok orang lain (secondhand
smoke);
5. 43 juta anak-anak terpapar asap rokok (secondhand smoke), diantaranya
11,4 juta anak usia 0-4 tahun;
6. Lebih dari 200.000 meninggal setiap tahun akibat penyakit berhubungan
dengan rokok;
7. Tren kenaikan anak usia 10-14 tahun yang merokok tahun 1995 dan
mengalami peningkata hingga enam kali lipat pada tahun 2007. Jumlah
perokok anak 1995 sebesar 71.126 dan pada tahun 2007
sebesar426.214 anak; dan
8. Beban ekonomi makro akibat penggunaan tembakau sebesar Rp 245, 41
Triliun Rupiah.
2.1.5 Jenis-Jenis Rokok
Di Indonesia terdapat dua jenis rokok yang beredar, yaitu rokok putih dan
rokok kretek. Rokok putih merupakan rokok yang di kenal di seluruh dunia.
Rokok putih merupakan rokok dengan atau tanpa filter, menggunakan tembakau
Virginia iris atau tembakau lainnya, tanpa menggunakan cengkeh, digulung
dengan kertas sigaret dan boleh menggunakan bahan tambahan yang lain,
kecuali yang tidak di ijinkan oleh pemerintah RI. Sedangkan rokok kretek memiliki
ciri khas campuran cengkeh pada tembakau rajangan yang menghasilkan bunyi
kretek-kretek ketika dihisap. Rokok kretek dibagi menjadi dua jenis, yaitu Sigeret
kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) (Kusuma, Yuwono, &
Wulan, 2016).
Namun, ditengah derasnya kesadaran masyarakat untuk menghentikan
kebiasaan merokok, karena kesehatan. Terdapat alternatif lain yang dapat
digunakan, yaitu rokok elektrik. Rokok elektrik dapat digunakan seperti rokok
biasa, dan rokok elektrik juga memiliki berbagai rasa. (Kusumaningrum, 2014).
Rokok elektrik berkembang di Tiongkok pada tahun 2004. Rokok elektrik bekerja
dengan dihisap melalui mulut. Aliran udara yang mengalir dari mulut penghisap
akan menyalakan sensor yang memicu bekerjanya pemanas kecil bertenaga
baterai. Kemudian, pemanas tersebut menguapkan nikotin cair sintesis dalam
wadah sekaligs mengaktifkan cahaya yang menyala di ujung batang rokok, selain
itu rokok ini juga mengeluarkan uap (Alvionita, 2016).
Sebuah penelitian di jepang menemukan bahwa rokok elektrik dapat
menyebabkan kanker karena terdapat kandungan zat karsinogenik atau zat
penyebab kanker seperti formaldehyde dan acetaldehyde. Kandugan tersebut
dapat meningkatkan resiko kanker yang lebih besar dibandingkan rokok biasa.
Selain itu, badan kesehatan dunia atau WHO telah melarang penjualan rokok ini
secara bebas, karena di khawatirkan mampu merusak kesehatan terutama bisa
asapnya terhirup oleh anak-anak. WHO juga untuk mengkonsumsi rokok ini di
ruang tertutup (Kusumanigrum, 2014).
Menurut NCHS (Papalia & Martorell, 2014) merokok adalah salah satu
penyebab kematian yang dapat dicegah diantara orang dewasa di US, tidak
hanya berhubungan dengan kanker paru-paru, tetapi juga dapat meningkatkan
resiko penyakit jantung, struk, penyakit paru-paru kronis. Periode perkembangan
emerging adulthood lebih suka merokok dari pada kelompok usia yang lain.
Lebih dari 40% dari usia 20-25 tahun melaporkan bahwa mereka menggunakan
rokok. Menurut SAMHSA (SAMSHSA, 2008; Johnston et al., 2012; Hoeksema,
2014) di US, 70% orang-orang dari usia 12 tahun pernah merokok beberapa
waktu dalam hidupnya, dan 28% baru menjadi perokok. Merokok biasanya
dimulai dari masa remaja awal. Sebuah survey pada kelas 12, ditemukan 40%
perokok merokok beberapa waktu dalam hidupnya, dan 10% merokok setiap hari
(Johnston et al., 2012; Hoeksema, 2014).
Hampir dua-tiga dari orang-orang yang merokok menjadi ketergantungan
terhadap nicotine, angkanya menunjukkan lebih tinggi dari pada ketergantungan ,
angkanya menunjukkan lebih tinggi dari pada ketergantungan psychoactive yang
lain (Lopez-Quentero et al., 2001; Hoeksema, 2014). Penggunaan dari tembakau
meningkat di Negara berkembanga (Hoeksema, 2014).
Pada tahun 2000, merokok telah membunuh 5 juta orang sedunia,
setengah dari Negara berkembang dan setengah dari Negara industry (Ezzati &
Lopez, 2004; Papalia & Maroterell, 2014). Meskipun mengetahui resiko dari
merokok, orang-orang tetap merokok. Hal ini dikarenakan merokok adalah
candu. Kecendrungan dari adiksi berkemungkinan dikarenakan genetik (Lerman
et al., 1999; Pianezza, Sellers, & Tynddale, 1998; Sabol et al., 1999; Papalia &
Martorell, 2014).
Meskipun 80% individu yang merokok menunjukkan keinginan untuk
berhenti merokok, dan 35% mencoba untuk berhenti setiap tahunnya, kurang
dari 5% yang sukses tanpa bantuan (APA, 2000)
Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Tjandra Yoga
Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE. Dikutip dalam artikel
health.liputan6.com mengungkapkan delapan fakta mengenai rokok di Indonesia,
yaitu (Sutanto, 2013)
1. Jumlah preokok aktitf di Indonesia terbanyak ke Tiga di dunia setelah
China dan India;
2. Prevalensi perokok: 67,4% (laki-laki) dan 84,5% (perempuan);
3. 61,4 juta perokok di Indonesia;
4. 97 juta warga (non-smoker) terpapar asap rokok orang lain (secondhand
smoke);
5. 43 juta anak-anak terpapar asap rokok (secondhand smoke), diantaranya
11,4 juta anak usia 0-4 tahun;
6. Lebih dari 200.000 meninggal setiap tahun akibat penyakit berhubungan
dengan rokok;
7. Tren kenaikan anak usia 10-14 tahun yang merokok tahun 1995 dan
mengalami peningkata hingga enam kali lipat pada tahun 2007. Jumlah
perokok anak 1995 sebesar 71.126 dan pada tahun 2007
sebesar426.214 anak; dan
8. Beban ekonomi makro akibat penggunaan tembakau sebesar Rp 245, 41
Triliun Rupiah.
2.1.5 Jenis-Jenis Rokok
Di Indonesia terdapat dua jenis rokok yang beredar, yaitu rokok putih dan
rokok kretek. Rokok putih merupakan rokok yang di kenal di seluruh dunia.
Rokok putih merupakan rokok dengan atau tanpa filter, menggunakan tembakau
Virginia iris atau tembakau lainnya, tanpa menggunakan cengkeh, digulung
dengan kertas sigaret dan boleh menggunakan bahan tambahan yang lain,
kecuali yang tidak di ijinkan oleh pemerintah RI. Sedangkan rokok kretek memiliki
ciri khas campuran cengkeh pada tembakau rajangan yang menghasilkan bunyi
kretek-kretek ketika dihisap. Rokok kretek dibagi menjadi dua jenis, yaitu Sigeret
kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) (Kusuma, Yuwono, &
Wulan, 2016).
Namun, ditengah derasnya kesadaran masyarakat untuk menghentikan
kebiasaan merokok, karena kesehatan. Terdapat alternatif lain yang dapat
digunakan, yaitu rokok elektrik. Rokok elektrik dapat digunakan seperti rokok
biasa, dan rokok elektrik juga memiliki berbagai rasa. (Kusumaningrum, 2014).
Rokok elektrik berkembang di Tiongkok pada tahun 2004. Rokok elektrik bekerja
dengan dihisap melalui mulut. Aliran udara yang mengalir dari mulut penghisap
akan menyalakan sensor yang memicu bekerjanya pemanas kecil bertenaga
baterai. Kemudian, pemanas tersebut menguapkan nikotin cair sintesis dalam
wadah sekaligs mengaktifkan cahaya yang menyala di ujung batang rokok, selain
itu rokok ini juga mengeluarkan uap (Alvionita, 2016).
Sebuah penelitian di jepang menemukan bahwa rokok elektrik dapat
menyebabkan kanker karena terdapat kandungan zat karsinogenik atau zat
penyebab kanker seperti formaldehyde dan acetaldehyde. Kandugan tersebut
dapat meningkatkan resiko kanker yang lebih besar dibandingkan rokok biasa.
Selain itu, badan kesehatan dunia atau WHO telah melarang penjualan rokok ini
secara bebas, karena di khawatirkan mampu merusak kesehatan terutama bisa
asapnya terhirup oleh anak-anak. WHO juga untuk mengkonsumsi rokok ini di
ruang tertutup (Kusumanigrum, 2014).
Treatment
Untuk menjaga kesehatan, terdapat beberapa treatment yang dapat
diberikan untuk berhenti mengkonsumsi nikotin atau rokok , yaitu (Mayo Clinic,
2016)
1. Nicotine Replacement Therapy (NRT). Merupakan terapi yang
memberikan nitkotin tanpa tembakau dan bahan kimia dalam asap rokok.
Produk pengganti nikotin ini membantu klien untuk menahan diri ketika
ingin merokok. Berikut beberapa produk pengganti nikotin yang tersedia
di semua konter, yaitu (a) Nicotine (NicoDerm CQ, Habitrol, orang lain).
Patch memberikan nikotin melalui kulit ke dalam aliran darah. Patch baru
digunakan setiap hari; (b) Nicotine Gum. Merupakan permen karet yang
memberikan nikotin untuk darah melalu selaput mulut; dan (c) Nicotine
Lezenge. Permen yang laruh dalam murut. Selain itu ada juga pengganti
nikotin yang tersedia dengan resep, yaitu Nicotine nasal spray. Produk ini,
disemprotkan langsung ke setiap lubang hidung; dan Nicotine inhaler.
Produk ini berbentuk seperti pemegang rokok. Disap dan memberikan
uap nikotin. Lalu uap nikotin terserap melalui lapisan mulut.
2. Non-Nicotine Medications. Obat-obat yang tidak mengandung nikotin dan
tersedia dengan resep meliputi; Bupropion (Zyban), Varenicline (Chantix),
dan Nortriptyline (Pamelor).
3. Counseling, support group, and other program. Terdapat beberapa
konseling yang dapat dilakukan, seperti telephone consoling, individual or
group counseling program,dan internet-based program.
4. Alternative medicine. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan selain
pengobatan tersebut, ialah akupuntur, suplemen herbal, hypnosis, dan
meditasi.
Untuk menjaga kesehatan, terdapat beberapa treatment yang dapat
diberikan untuk berhenti mengkonsumsi nikotin atau rokok , yaitu (Mayo Clinic,
2016)
1. Nicotine Replacement Therapy (NRT). Merupakan terapi yang
memberikan nitkotin tanpa tembakau dan bahan kimia dalam asap rokok.
Produk pengganti nikotin ini membantu klien untuk menahan diri ketika
ingin merokok. Berikut beberapa produk pengganti nikotin yang tersedia
di semua konter, yaitu (a) Nicotine (NicoDerm CQ, Habitrol, orang lain).
Patch memberikan nikotin melalui kulit ke dalam aliran darah. Patch baru
digunakan setiap hari; (b) Nicotine Gum. Merupakan permen karet yang
memberikan nikotin untuk darah melalu selaput mulut; dan (c) Nicotine
Lezenge. Permen yang laruh dalam murut. Selain itu ada juga pengganti
nikotin yang tersedia dengan resep, yaitu Nicotine nasal spray. Produk ini,
disemprotkan langsung ke setiap lubang hidung; dan Nicotine inhaler.
Produk ini berbentuk seperti pemegang rokok. Disap dan memberikan
uap nikotin. Lalu uap nikotin terserap melalui lapisan mulut.
2. Non-Nicotine Medications. Obat-obat yang tidak mengandung nikotin dan
tersedia dengan resep meliputi; Bupropion (Zyban), Varenicline (Chantix),
dan Nortriptyline (Pamelor).
3. Counseling, support group, and other program. Terdapat beberapa
konseling yang dapat dilakukan, seperti telephone consoling, individual or
group counseling program,dan internet-based program.
4. Alternative medicine. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan selain
pengobatan tersebut, ialah akupuntur, suplemen herbal, hypnosis, dan
meditasi.
No comments:
Post a Comment