Definisi stress
Menurut Departemen Pendidikan Nasional dikutip dalam KBBI (2008) “Stress adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor” (h. 1341). Menurut Greenberg (2005) stress adalah pola emosi dan reaksi psikologis yang terjadi berdasarkan respon dari dalam atau luar organisasi.
“Stress adalah suatu kondisi dinamis yang didalamnya seorang indivudu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constraints), atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting” (Keith Davis dalam Suharsono, 2012, h.171).
Menurut Gibson dikutip dalam Suharsono (2012) menyatakan bahwa “Stress adalah suatu tanggapan adaptif, ditengahi oleh perbedaan individual dan/atau proses psikologis yaitu, suatu konsekuensi dari setiap kegiatan (lingkungan), situasi, atau kejadian eksternal yang membebani tuntutan psikologis atau fisik yang berlebihan terhadap seseorang” (h. 172). Berdasarkan pengertian diatas, dapat diartikan bahwa stress adalah sebuah respon emosional yang dialami individu terhadap tuntutan internal dan eksternal pada dirinya.
Jenis Stress
Menurut Greenberg (2005) menyatakan bahwa terdapat tiga jenis stress:
Stress akut (Acute Stress). Jenis stress ini merupakan tekanan yang berlangsung secara cepat (mendadak) yang mempengaruhi fisik dan mental seseorang, yang membuat seseorang harus melakukan penyesuaian yang tidak dinginkannya. Contohnya, seseorang yang bekerja dengan shift yang berbeda setiap harinya, harus bangun pagi dan makan dengan waktu yang berbeda-beda. Respon pada fisiknya dapat berupa capek, dan pada mentalnya dapat berupa badmood.
Stress akut berulang (Episodic Acute Stress). Stress pada tahap ini merupakan hasil dari individu yang terlalu banyak mengalami stress akut dalam waktu yang singkat, segala sesuatu yang dikerjakan akan menjadi berantakan. Contohnya, seorang mahasiswa yang mengikuti organisasi di kampus sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa, pada saat itu dia menjadi ketua pelaksana sebuah acara. Hari itu, dia harus melakukan survei untuk tempat pelaksanaan, namun di kampus juga ada kuis mendadak dari dosen dan tidak bisa ditunda. lalu terjadi kendala dalam persiapan untuk acara yang dilakukan organisasinya. Mahasiswa tersebut mengalami episodic acute stress karena dia mengalami berbagai masalah yang memicu stres dalam waktu singkat. Dia harus melakukan survei untuk acara organisasinya, namun dia juga harus mengikuti kuis dadakan, serta dia harus mengurusi kendala persiapan acara tersebut.
Stress kronis (Chronic Stress). Stress kronis merupakan tipe stressor yang paling berbahaya karena sifatnya yang konstan dan terus-menerus, memiliki efek jangka panjang pada fisik, pikiran, dan mental seseorang. Contoh umumnya, manusia akan selalu menghadapi stress karena memikirkan ketidakpastian masa depannya. Contoh lain dapat berupa seorang siswa SMA yang dinyatakan tidak lulus UN, hal ini menjadi pemicu stressor karena dia harus mengulang kembali sekolahnya lalu dia memikirkan masa depannya yang terhambat 1 tahun akibat tidak lulus dan dia malu terhadap teman serta keluarganya.
Penyebab Stress
Menurut Suharsono (2012) penyebab stress adalah pekerjaan dan frustasi. Dalam pekerjaan yang dapat menyebabkan stress adalah beban kerja, konflik peran, perbedaan nilai antara perusahaan dan karyawan, serta tingkat organisasi (manajemen). Pada dasarnya, frustasi merupakan hambatan atas berbagai motivasi yang terdapat dalam individu sehingga tidak dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan frustasi yang dapat menyebabkan stress adalah (a) mekanisme pertahanan (defence mechanism), (b) tipe reaksi (agresi, menarik diri, dan lain-lain), dan (c) sumber frustasi (manajemen, teman kerja, lingkungan, dan lain-lain).
Menurut Robbins dikutip dalam Suharsono (2012) mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan stress, yaitu (a) faktor lingkungan (perubahan organisasi, ketidakpastian: ekonomi, politik, teknologi), (b) faktor organisasi (tugas, manajemen, hubungan atar pribadi), dan (c) faktor individual (situasi keluarga, ekonomi, kepribadian). Selain itu, faktor internal juga menjadi penyebab stress seseorang, antara lain: (a) keturunan, (b) kepribadian, (c) sistem kepercayaan, dan (d) pengalaman masa lalu. Menurut Dr. Roxanne dikutip dalam Christian (2005) mengatakan bahwa orangtua yang selalu stress secara tidak sengaja juga mengajarkan anaknya untuk gampang stress ketika menghadapi tantangan hidup. Menurut The British Medical Journal dikutip dalam Christian (2005) mengatakan bahwa kondisi psikologis ibu yang sedang hamil juga berpengaruh pada kondisi mental dan fisik anak yang dikandungnya, permasalahan mental berujung pada stress yang akan dialami pada masa pertumbuhan anak tersebut.
Stress merupakan bagian terbesar dalam hidup orang yang memiliki kepribadian tipe A karena tipe A dicirikan dengan watak yang kompetitif, mudah gelisah, mudah marah, tidak sabar, dan perfeksionis. Kepercayaan juga dapat menyebabkan stress, contohnya keyakinan bahwa setiap keluarga harus memiliki keturunan akan membuat stress berkepanjangan bagi pasangan yang tidak dikarunia anak. Pengalaman masa lalu yang buruk akan menjadi sumber stress yang buruk karena trauma yang diakibatkannya membuat orang ketakutan apabila pengalaman itu terulang lagi (Christian, 2005).
Gejala Stress
Menurut Hardjana (Solihat, 2009) membagi gejala stress ke dalam empat aspek, yaitu: (1) Gejala fisikal, (2) Gejala emosional, (3) Gejala intelektual, dan (4) Gejala interpersonal. Gejala fisik yang dimaksud dapat berupa sakit kepala, pusing, tidur tidak teratur, insomnia (susah tidur), bangun terlalu awal, gatal-gatal pada kulit, urat tegang terutama pada leher dan bahu, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kelewatan berkeringat, lelah atau kehilangan daya energi, dan bertambah banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam kerja dan hidup. Selain itu, seperti diungkapkan oleh Georgetown University Health Education Services dalam Indriyani (2015) bahwa tanda-tanda Anda mengalami stress bentuk-bentuknya bisa seperti lupa makan, sakit kepala, cemas dan mengalami keram perut. Hal ini dikarenakan, saat berhadapan dengan faktor stress secara fisik maupun mental, tubuh akan merespon dengan reaksi perlawanan alami.
Gejala emosional terdiri atas, gelisah atau cemas, sedih, depresi, mudah menangis, merana jiwa dan hati atau mood yang cepat berubah-ubah, mudah panas dan marah, gugup, merasa harga diri menurun atau merasa tidak nyaman, terlalu peka dan mudah tersinggung, dan emosi mengering atau kehabisan sumber daya mental (burn out). Gejala intelektual dapat berupa: sulit membuat keputusan, daya ingat menurun, pikiran kacau, melamun secara berlebihan, kehilangan rasa humor yang sehat, produktivitas atau prestasi kerja menurun, dan susah berkonsentrasi atau memusatkan pikiran. Ciri-ciri gejala interpersonal yaitu kehilangan kepercayaan pada orang lain, mudah mempersalahkan orang lain, mudah membatalkan janji atau tidak memenuhi janji, suka mencari-cari kesalahan orang lain atau menyerang orang dengan kata-kata dan mengambil sikap terlalu membentengi dan mempertahankan diri.
Dampak Stress
Dampak stress yang terjadi pada mahasiswa dapat berupa, yaitu: (a) mudah gelisah, malu, dan gugup; (b) emosi sering meledak-ledak; (c) makan dan minum berlebihan; (d) sulit istirahat; (e) merasa terancam; (f) mudah murung atau moodiness; (g) sering sakit kepala; (h) tidak produktif; dan (i) ketidakpuasan dalam kerja (Mahsun, 2004).
No comments:
Post a Comment