Kebenaran sangatlah penting dan berharga, sehingga banyak
orang yang rela mengeluarkan harga yang mahal untuk menyingkap suatu kebenaran.
Untuk menilai sutu penyataan maka digunakanlah istilah benar-salah. Pengetahuan
bisa di nilai betul atau salah karena pada dasarnya pengetahuan merupakan
gabungan atau perpaduan dari sistim pernyataan.
Konsep hanya dinilai dengan jelas dan terpilah atara kabur,
memadai atau tidak memadai.yang disebut benar-salah adalah isi pernyataan
tentang apa yang dipersepsikan
Kebenaran sebagai seifat pengetahuan disebut kebenaran
epistemology. Secara uum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian
antara apa yang dipikirkan atau yang dinyatakan dengan kenyataan seseungguhnya.
Kebenaran menurut bahasa yunani adalahalethia, sedangkan
menurut plato kebenaran adalah ketersembunyian adanya atau ketersingkapan
adanya. Menurut plato sebelum kita masuk ke yang ada kita tidak akan tahu
kebenaran, sehingga ketika kita memasuki kebenaran tersebut maka akan
tesingkaplah kebenaran tersebut.
Berbeda dengan palto, aristoteles lebih memusatkan perhatian
pada kualiatas yang dibuat subjek. Kebenaran menurut aristoteles dalam memahami
kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat.oleh
subjek ketika dirinya menegakan suatu putusan secara afirmatif atau negative.
Dalam hal ini kebenaran disesuaikan antara subjek dan objek yang diketahui.
Menurut kaup positivism logis kebenaran tergabi dua, yaitu
;kebenaran factual dan nalar. Kebenaran factual tentang ada tidaknya secara
factual di dunia sebagaimana di alami manusia. Kebenaran factual sebagai
kebenaran yang menambah khazahanpengetahuan kita tentang alam semseta sejauh
dapat kita alami secara inderawi. Kebenaran factual kepastiannya tidak pernah
mutlak dan dapat diterima sebagai benar sejauh belum ada alternative pandangan
lain yang menggugurkannya.
Sedangkan kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat
tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan mengenai dunia,
tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang
benar tentang dunia ini. Kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya.
Sedangkan menurut T. Aquinas
dari kaum positivism membedakan kebenaran menjadi kebenaran ontologis
(varietas ontological) dankebenaran logis (varietas logica). Kebenaran ontology
merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan entah spiritual,atau material
yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahuai.
Misalnya kebenaran tentang adanya tuhan dan kebenaran tentang adanya
jiwa. Kebenaran logis adalah kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia
dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dan kenyataan.
Dalam kehidupan sehari-hari pernyataan-pernyataan yang
dianggap benar walaupun memang menjadi tempat kedudukan kebenaran, namun hal
itu hanya terjadi apabila kenyataan yang seseungguhnya tersingkap di dalamanya.
Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran merupakan apa
yang secara pribadi berharga bagi subjek konkrit yang bersangkutan dan pantas
untuk diegan teguh dengan penuh kesetian. Kalau kebenaran ilmiah bersifat
internal terhadap subjek, maka kebenaran eksistensial bersifat internal
terhadap subjek. Dalam arti si subjek secara langsung terlibat dalam perkara yang dinilai atau dipertaruhkan.
Bagi manusia sebagai mahluk yang terbatas , kebenaran
sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya dan, itu ternyata tidak
dapat disaksikan secara sekaligus dan menyeluruh.
Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan
kognitif subjek sedangkan kesalahan adalah hasil dati tindakan tersebut.
Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti tepat, menganggap bukti belum cukup padalah belum
tentu atau sebaliknya. Selain itu kekeliruan dapat terjadi karena kecerobohan dalam
memutuskan susatu perkara.
Faktor-faktor yang memungkinkan kekeliruan misalnya
kompleksitas atau kekeburan perkara yang menjadi persoalan. Sedangkan factor yang menjadi penyebab
kekeliruan adalah tergesa-gesa sehingga kurang teliti, lalu juga disebebkan
karena takut salah yang berlebihan atau terlalu gegabah dalam mengambil
keputusan. Selain itu juga dapat disebabkan karenan pengaruh emosi, dimana
emosi menjadi tidak stabil. Lalu karena prasangka dan bias-bias baik individu maupun social. Dan karena kekeliruan
salam penalaran atau tidak memenuhi aturan –aturan logika.
sumber : catatan dari slide dosen
sumber : catatan dari slide dosen
Sudah bagus dan semoga lebih bagus lagi di blog selanjurnya...
ReplyDelete