Thursday, 18 September 2014

Pertemuan III, Kebenaran




Kebenaran sangatlah penting dan berharga, sehingga banyak orang yang rela mengeluarkan harga yang mahal untuk menyingkap suatu kebenaran. Untuk menilai sutu penyataan maka digunakanlah istilah benar-salah. Pengetahuan bisa di nilai betul atau salah karena pada dasarnya pengetahuan merupakan gabungan atau perpaduan dari sistim pernyataan.


Konsep hanya dinilai dengan jelas dan terpilah atara kabur, memadai atau tidak memadai.yang disebut benar-salah adalah isi pernyataan tentang apa yang dipersepsikan
Kebenaran sebagai seifat pengetahuan disebut kebenaran epistemology. Secara uum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan atau yang dinyatakan dengan kenyataan seseungguhnya.

Kebenaran menurut bahasa yunani adalahalethia, sedangkan menurut plato kebenaran adalah ketersembunyian adanya atau ketersingkapan adanya. Menurut plato sebelum kita masuk ke yang ada kita tidak akan tahu kebenaran, sehingga ketika kita memasuki kebenaran tersebut maka akan tesingkaplah kebenaran tersebut.

Berbeda dengan palto, aristoteles lebih memusatkan perhatian pada kualiatas yang dibuat subjek. Kebenaran menurut aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat.oleh subjek ketika dirinya menegakan suatu putusan secara afirmatif atau negative. Dalam hal ini kebenaran disesuaikan antara subjek dan objek yang diketahui.

Menurut kaup positivism logis kebenaran tergabi dua, yaitu ;kebenaran factual dan nalar. Kebenaran factual tentang ada tidaknya secara factual di dunia sebagaimana di alami manusia. Kebenaran factual sebagai kebenaran yang menambah khazahanpengetahuan kita tentang alam semseta sejauh dapat kita alami secara inderawi. Kebenaran factual kepastiannya tidak pernah mutlak dan dapat diterima sebagai benar sejauh belum ada alternative pandangan lain yang menggugurkannya.

Sedangkan kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini. Kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya.

Sedangkan menurut T. Aquinas  dari kaum positivism membedakan kebenaran menjadi kebenaran ontologis (varietas ontological) dankebenaran logis (varietas logica). Kebenaran ontology merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan entah spiritual,atau material yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahuai.  Misalnya kebenaran tentang adanya tuhan dan kebenaran tentang adanya jiwa. Kebenaran logis adalah kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dan kenyataan.

Dalam kehidupan sehari-hari pernyataan-pernyataan yang dianggap benar walaupun memang menjadi tempat kedudukan kebenaran, namun hal itu hanya terjadi apabila kenyataan yang seseungguhnya tersingkap di dalamanya.

Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subjek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk diegan teguh dengan penuh kesetian. Kalau kebenaran ilmiah bersifat internal terhadap subjek, maka kebenaran eksistensial bersifat internal terhadap subjek. Dalam arti si subjek secara langsung terlibat dalam  perkara yang dinilai atau dipertaruhkan.

Bagi manusia sebagai mahluk yang terbatas , kebenaran sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya dan, itu ternyata tidak dapat disaksikan secara sekaligus dan menyeluruh.
Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subjek sedangkan kesalahan adalah hasil dati tindakan tersebut. Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti tepat,  menganggap bukti belum cukup padalah belum tentu atau sebaliknya. Selain itu kekeliruan dapat terjadi karena kecerobohan dalam memutuskan susatu perkara.

Faktor-faktor yang memungkinkan kekeliruan misalnya kompleksitas atau kekeburan perkara yang menjadi persoalan.  Sedangkan factor yang menjadi penyebab kekeliruan adalah tergesa-gesa sehingga kurang teliti, lalu juga disebebkan karena takut salah yang berlebihan atau terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Selain itu juga dapat disebabkan karenan pengaruh emosi, dimana emosi menjadi tidak stabil. Lalu karena prasangka dan bias-bias  baik individu maupun social. Dan karena kekeliruan salam penalaran atau tidak memenuhi aturan –aturan logika.


sumber : catatan dari slide dosen

1 comment:

  1. Sudah bagus dan semoga lebih bagus lagi di blog selanjurnya...

    ReplyDelete