Pertemuan ke-4
Sesi 1
Subyektivisme dan obyektivisme.
Pada pertemuan kali ini, kbk blok filsafat membahas tentang
subyektivisme dan obyrktivisme. Perlu di ketahui bahwa kata isme merupakan
aliran yang menekankan. Jadi pengetian dari subyektivisme adalah aliran-aliranyang
menekankan pengetahuan pada individu. Sedangkan obyektivisme adalah pandangan
yang menekankan butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai
kompleks
Pada pemaparan materi, subyektivisme lebih banyak disinggung
dari pada obyektivisme. Adapun tokoh-tokoh yang mendukung aliran subyektivisme
antara lain : aristoteles, palate, rene Descartes ; kaum solipsism (solo ipse)
; kaum realism epistemology ; kaum idealism epistemology.
Subyektivisme mimiliki karakteristik yaitu : menggagas
pengetahuan sebgai suatu keadaan mental yang khusus; pengalaman subyektif dari
data inderawi, misalnya gula itu manis, gula itu dapat dinyatkan manis jika
kita telah mengecapnya dengan indera kita; pengalaman langsung dari subyek,
maksutnya pengalaman tersebut adalah pengalaman dari individu itu sendir bukan
dari yang lain serta memiliki prinsip subjek tentang alasa yang cukup.
Aristoteles, plato dan Descartes menyatakan bahwa
subyektivisme adalah pengetahuan yang bergantung pada manusianya. Seperti pernyataan
Descartes “cogito ergo sum/saya berpikir saya ada” dimana yang berpikir adalah
subyek tersebut. Berpikir tidak hanya penalaran saja tetapijuga termasuk
seluruh kegiatan dalam keadaan sadar yang masuk ke dalam kegiatan berpikir.
Sedangkan menurut realisme epistemology berpendapat bahwa
kesadara menghubugkan saya dengan diri saya yang lain. Tokoh dari aliran ini
adalah john locke. Contohnya adalah ketika kita membaca sebuah novel. Novel
tersebut sangat menyetuh sehingga kita pun menjadi terharu, dan menghubungkan
kita dengan diri kita yang lain. Sedangkan pada menurut pandangan idealism
epistemology berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam
suatu yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni. Maksutnya adalah
setiapnya akan menghasilkan ide, jadi subyek yang memulai dan subyek juga yang
mengakhiri. Tindakan dan pikiran merupakan subjek yang murni.
Seiring berjalannya waktu, banyak filsuf yang telah mencoba
untuk mengandai –andaikan tantang diri. Pengetahuan tentang diri sendiri adalah
pengetahuan langsung, sedangkan pengetahuan yang tidak langsung adalah
pengetahuan yang bukan tentang diri subyek, mealinkan dimana subjek masuk ke
dalam tindakan tersebut. Namun pengetahuan yang tidak langsung ini masih
diragukan kebenarannya.
Descartes merupakan tokoh yang menolak skeptisme sehingga ia
beralih ke subyektivisme. Skeptisme adalah sikap dimana kita meragukan
kemungkinan bahwa manusia dapat menetahui sesuatu karena tidak ada bukti yang
cukup bahwa manusia benar tahuu tentang sesuatu. Descartes juga seseorng yang
rasionalis, sehingga iapun meragukan kebenaran pengalaman inderawi, termasuk
pengetahuan tentang dunia luar kita.
dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya
berfungsi sebagai penahu tetapi juga sebagai pelaku tidak bisamengandaikan
adanya “yang lain” baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun
sebagai sesame subyek dalam dialog.
Subyektivisme hanya mau dikatakan tentang pentingnya subyek
atau subyektivitas pengetahuan maka paham ini dapat diterima namun bila
mengklaim bahwa sesungguhnya ada dan dapat diketahui dengan pasti itu hanyalah
subyek dan gagasannya, sedangkan semua yang lain baikadanya maupun dapat
diketahui perlu diragukan, maka paham subyektivisme tersebut tidk dapat
diterima. Jika paham bahwa semua jenis pengetahuan bersifat subyektif dan tidak
memiliki kebenaran obyektif, paham semacam itu dalam epistemologis pantas di
tolak.
Obyektivisme
ð
pengetahuan yang menekankan bahwa butir-butir
pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks,
mempunyai sifat dan ciri-ciri yang melampaui kesadaran individu. Pendukung
teori ini adalahPopper, latatos, Marx.
Obyektivisme merupakan aliran dimana objek yang
dipersepsikan dan terlepas dari pikiran pribadi (berdiri sendiri). Obyektivisme
tidak tergantung orang yang memahaminya.
Terdapat tiga pandangan dasar obyektivisme, yaitu ;
- kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subyektif. Maksudnya adalah, pandangan itu harus independen, bukan di nilai berdasarkan subyek, tetapi memang berdasarkan obyek tersebut.
- Kebenaran datang dari bukti yang konkrit. Maksudnya, kebenaran ini memiliki bukti yang konkrit. Misalnya pengetahuan tentang gula yang manis. Gula memang manis, bahkan sebelum kita mencicipinya kita telah tahu secara teorinya.
- Kebenaran di dasari dari pengalaman inderawi Seperti contoh tadi, pernyataan bahwa gula manis, karena memang telah di rasakan oleh inderawi.
Pandangan ini dekat dengan aliran postivisme dan empirisme.
Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan
tanpa orang
“ia adalah pengetahuan tanpa dikeahui subyek” (karl R. Popper)
Pengetahuan bersifat umum dan dapat dipersepsikan oleh
pengamat yang jumlahnya banyak dan obyektivisme bersifat permanen. Contohnya
seperti ; bumi bulat. Pengetahuan akan bumi bulat telah diketahui secara umum
dan terus ada hingga saat ini.
Para filsuf menganggap untuk meperbaikibeberapa keyakinan
harian kita, yaitu ; meletakkan ‘kesalahan’ pada indera, karena indera tidak
pernah salah.
Untuk mempercayai kebenaran inderawi, terdapat beberapa
syarat yang harus dipenuhi yait ; 1) obyek sesuai dengan indera. Maskutnya
adalah apa yang diketahui/dirasakan oleh indera adalah fakta yang kita liha,
contohnya baju itu berwarna merah, dan indera kita memang melihat baju itu
berwarna merah. 2) indera harus sehat dan normal. Indera kita harus sehat dan
normal agar tidak terjadi kesalah saat kita menilai apa yang
diketahuai/dirasakan oleh indera, karena jika indera kita bermasalah maka
penilaian bukan secara obyektif, tetapi secara subyektif. Hal ini di karenakan
kita melibatkan diri kita saat menilai obyek tersebut, dimana indera kita yang
bermasalah membuat penilaian kita salah. Dan yang terakhir 3) adanya medium.
Adanya medium membantu kita dalam menilai secara obyektif. Contohnya adalah
warna yang ditangkap oleh indera apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakanuntuk
mencetak foto.
Perlu diketahui obyek terbagi dua, yaitu obyek khusus dan
umum. Obyek khusus hanya ditangkap oleh satu indera saja, seperti suara, bau ,
dan warna. Sedangkan obyek umum dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera
seprti ketika menonton televisi, diman indera yang bekerja adalah mata dan
telinga.
Keyakinan tidak selalu obyektif dalam hubungan, tetapi
obyek-obyek konseptual bersifat obyektif. Persepsi merupakan masalah yang
paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemology.
Sumber : catatan dari slide dosen.

No comments:
Post a Comment