Monday, 22 September 2014

Pertemuan IV, Subyektivisme dan Obyektivisme



Pertemuan ke-4
Sesi 1
Subyektivisme dan obyektivisme.

Pada pertemuan kali ini, kbk blok filsafat membahas tentang subyektivisme dan obyrktivisme. Perlu di ketahui bahwa kata isme merupakan aliran yang menekankan. Jadi pengetian dari subyektivisme adalah aliran-aliranyang menekankan pengetahuan pada individu. Sedangkan obyektivisme adalah pandangan yang menekankan butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai kompleks



Pada pemaparan materi, subyektivisme lebih banyak disinggung dari pada obyektivisme. Adapun tokoh-tokoh yang mendukung aliran subyektivisme antara lain : aristoteles, palate, rene Descartes ; kaum solipsism (solo ipse) ; kaum realism epistemology ; kaum idealism epistemology.
Subyektivisme mimiliki karakteristik yaitu : menggagas pengetahuan sebgai suatu keadaan mental yang khusus; pengalaman subyektif dari data inderawi, misalnya gula itu manis, gula itu dapat dinyatkan manis jika kita telah mengecapnya dengan indera kita; pengalaman langsung dari subyek, maksutnya pengalaman tersebut adalah pengalaman dari individu itu sendir bukan dari yang lain serta memiliki prinsip subjek tentang alasa yang cukup.

Aristoteles, plato dan Descartes menyatakan bahwa subyektivisme adalah pengetahuan yang bergantung pada manusianya. Seperti pernyataan Descartes “cogito ergo sum/saya berpikir saya ada” dimana yang berpikir adalah subyek tersebut. Berpikir tidak hanya penalaran saja tetapijuga termasuk seluruh kegiatan dalam keadaan sadar yang masuk ke dalam kegiatan berpikir.

Sedangkan menurut realisme epistemology berpendapat bahwa kesadara menghubugkan saya dengan diri saya yang lain. Tokoh dari aliran ini adalah john locke. Contohnya adalah ketika kita membaca sebuah novel. Novel tersebut sangat menyetuh sehingga kita pun menjadi terharu, dan menghubungkan kita dengan diri kita yang lain. Sedangkan pada menurut pandangan idealism epistemology berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni. Maksutnya adalah setiapnya akan menghasilkan ide, jadi subyek yang memulai dan subyek juga yang mengakhiri. Tindakan dan pikiran merupakan subjek yang murni.

Seiring berjalannya waktu, banyak filsuf yang telah mencoba untuk mengandai –andaikan tantang diri. Pengetahuan tentang diri sendiri adalah pengetahuan langsung, sedangkan pengetahuan yang tidak langsung adalah pengetahuan yang bukan tentang diri subyek, mealinkan dimana subjek masuk ke dalam tindakan tersebut. Namun pengetahuan yang tidak langsung ini masih diragukan kebenarannya.

Descartes merupakan tokoh yang menolak skeptisme sehingga ia beralih ke subyektivisme. Skeptisme adalah sikap dimana kita meragukan kemungkinan bahwa manusia dapat menetahui sesuatu karena tidak ada bukti yang cukup bahwa manusia benar tahuu tentang sesuatu. Descartes juga seseorng yang rasionalis, sehingga iapun meragukan kebenaran pengalaman inderawi, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita.

dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu tetapi juga sebagai pelaku tidak bisamengandaikan adanya “yang lain” baik sebagai obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesame subyek dalam dialog.

Subyektivisme hanya mau dikatakan tentang pentingnya subyek atau subyektivitas pengetahuan maka paham ini dapat diterima namun bila mengklaim bahwa sesungguhnya ada dan dapat diketahui dengan pasti itu hanyalah subyek dan gagasannya, sedangkan semua yang lain baikadanya maupun dapat diketahui perlu diragukan, maka paham subyektivisme tersebut tidk dapat diterima. Jika paham bahwa semua jenis pengetahuan bersifat subyektif dan tidak memiliki kebenaran obyektif, paham semacam itu dalam epistemologis pantas di tolak.
Obyektivisme
ð   

     pengetahuan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks, mempunyai sifat dan ciri-ciri yang melampaui kesadaran individu. Pendukung teori ini adalahPopper, latatos, Marx.

Obyektivisme merupakan aliran dimana objek yang dipersepsikan dan terlepas dari pikiran pribadi (berdiri sendiri). Obyektivisme tidak tergantung orang yang memahaminya.

Terdapat tiga pandangan dasar obyektivisme, yaitu ;

  •    kebenaran itu independen terlepas dari pandangan subyektif. Maksudnya adalah, pandangan itu harus independen, bukan di nilai berdasarkan subyek, tetapi memang berdasarkan obyek tersebut.

  •   Kebenaran datang dari bukti yang konkrit. Maksudnya, kebenaran ini memiliki bukti yang konkrit. Misalnya pengetahuan tentang gula yang manis. Gula memang manis, bahkan sebelum kita mencicipinya kita telah tahu secara teorinya.
  •  Kebenaran di dasari dari pengalaman inderawi Seperti contoh tadi, pernyataan bahwa gula manis, karena memang telah di rasakan oleh inderawi.
Pandangan ini dekat dengan aliran postivisme dan empirisme.

Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang
 “ia adalah pengetahuan tanpa dikeahui subyek” (karl R. Popper)



Pengetahuan bersifat umum dan dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya banyak dan obyektivisme bersifat permanen. Contohnya seperti ; bumi bulat. Pengetahuan akan bumi bulat telah diketahui secara umum dan terus ada hingga saat ini.

Para filsuf menganggap untuk meperbaikibeberapa keyakinan harian kita, yaitu ; meletakkan ‘kesalahan’ pada indera, karena indera tidak pernah salah.

Untuk mempercayai kebenaran inderawi, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi yait ; 1) obyek sesuai dengan indera. Maskutnya adalah apa yang diketahui/dirasakan oleh indera adalah fakta yang kita liha, contohnya baju itu berwarna merah, dan indera kita memang melihat baju itu berwarna merah. 2) indera harus sehat dan normal. Indera kita harus sehat dan normal agar tidak terjadi kesalah saat kita menilai apa yang diketahuai/dirasakan oleh indera, karena jika indera kita bermasalah maka penilaian bukan secara obyektif, tetapi secara subyektif. Hal ini di karenakan kita melibatkan diri kita saat menilai obyek tersebut, dimana indera kita yang bermasalah membuat penilaian kita salah. Dan yang terakhir 3) adanya medium. Adanya medium membantu kita dalam menilai secara obyektif. Contohnya adalah warna yang ditangkap oleh indera apabila di bawah sinar matahari dari  pada di bawah sinar merah yang digunakanuntuk mencetak foto.

Perlu diketahui obyek terbagi dua, yaitu obyek khusus dan umum. Obyek khusus hanya ditangkap oleh satu indera saja, seperti suara, bau , dan warna. Sedangkan obyek umum dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera seprti ketika menonton televisi, diman indera yang bekerja adalah mata dan telinga.

Keyakinan tidak selalu obyektif dalam hubungan, tetapi obyek-obyek konseptual bersifat obyektif. Persepsi merupakan masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemology.

Sumber : catatan dari slide dosen. 

No comments:

Post a Comment