Wednesday, 24 September 2014

Pertemuan VI, ETIKA dan MORAL




Sebelumnya etika dan moral telah dibahas. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti watak. Sedangkan moral berasal dari bahasa latin yaitu mos (tunggal), moris (jamak) yang berarti kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.
Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan yang dimaksudkan  adalah perbuatan yang dilakukan secara bebas dan sadar. Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.


Jika dilihat dari asal kata, etika adalah ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Sedangkan etika menurut bartens adalah Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misal: Etika orang Jawa.

Etika dibedakan menjadi dua, yaitu etika perangai dan etika moral.  Etika perangai adalah adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Contohnya ; upacara adat, pergaulan muda mudi, berbusana adat. 

Sedangkan etika moral berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral. Contohnya; membela kebenaran, menyantuni anak yatim.

Adapun macam-macam arti etika, yaitu :
       Etika sebagai ilmu

                “Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.”

       Etika sebagai kode etik

                “Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.”

       Etika sebagai sistem nilai

                “Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.”



  • Objek material  yaitu suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.

  • Objek formal yaitu cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti/ ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.

  • Objek material etika yaitu tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).

  • Objek formal etika yaitu kebaikan dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan penilaian bermoral atau tidak bermoral).

Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral, atau menerjemahkan berbagai nilai itu ke dalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi kehidupan konkret.
Sebagai ilmu, etika mencari kebenaran; sebagai filsafat, etika mencari keterangan (dan kebenaran) yang sedalam-dalamnya. Sebagai tugas, etika mencari ukuran tentang baik-buruknya tingkah laku manusia.

ETIKA DESKRIPTIF

Dalam etika deskriptif, etika membahas apa yang dipandangnya. Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Misalnya: adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu dan kebudayaan atau subkultur tertentu, atau dalam suatu periode sejarah.

SEJARAH KESUSILAAN

Bagian ini timbul bila orang menerapkan metode historis dalam etika deskriptif. Yang diselidiki adalah pendirian-pendirian mengenai baik-buruk yang manakah, norma-norma kesusilaan yang manakah yang pernah berlaku, dan cita-cita kesusilaan yang manakah yang dianut oleh bangsa-bangsa tertentu

Tujuan dari mempelajari etika

           menyamakan persepsi tentang penilaian baik dan buruk bagi manusia dalam ruang dan waktu tertentu.
·         Sebagai ilmu, etka bersifat kritis, dan metodis
Berdasarkan kajian ilmu.
-           
      Etika normative -> mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
-          Etika fenomenalogis -> mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan tanggung jawab, norma-norma dsb.
FENOMENOLOGI KESUSILAAN

Fenomenologi  berasal dari kata fenomenon dan logos. Fenomenon adalah sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya . Fenomenologi adalahUraian atau percakapan tentang  fenomenon atau sesuatu yang sedang menampakkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala.

Etika fenomenologi hanya menjelaskan, menunjukkan adanya unsur-unsur itu dalam kesadaran moral. Fenomenologi kesusilaan mencari makna kesusilaan dari gejala-gejala kesusilaan; artinya, ilmu pengetahuan ini melukiskan kesusilaan sebagaimana adanya, mempertanyakan apakah yang merupakan hakikat kesusilaan. Ciri pokok fenomenologi adalah menghindarkan pemberian tanggapan mengenai kebenaran.

ETIKA NORMATIF

Etika normatif berbicara mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia. Etika normatif memberikan penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma. Etika normative itu tidak deskriptif, tetapi preskriptif (artinya memerintahkan); tidak melukiskan melainkan menentukan benar-tidaknya tingkah laku atau anggapan-anggapan moral.

METAETIKA

Meta dalam bahasa yunani adalah “melebihi”, “melampaui”,  “setelah”, “di luar”, “tentang”. (metabahasa  adalah bahasa yang dipakai dalam berbicara tentang bahasa). Metabahasa bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang digunakan di bidang moral. Persoalan yang menyangkut metaetika adalah persoalan yang rumit. Pertanyaan tentang hakikat keadilan, hakikat ketidakadilan, bahkan hakikat kebaikan dan keburukan, kerap kali pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab secara memuaskan.

ETIKA UMUM

berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

 ETIKA KHUSUS

Etika khusus dibagi menjadi dua bagian, yaitu etika individual (menyangkut sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Etika social yaitu berbicara mengenaikewajiban, sikap dan pola prilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

Profesi

Pekerjaan yang menuntt perkembangan untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan dan keteampilan sesuai perkembangan teknologi.
Adapun ciri-ciri etika profesi, yaitu;
  •  Adanya pengetahuan khusus.
  •  Mengabdi kepada kepentingan masyarakat
  •  Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi.
  •  Menjadi anggota dari suatu profesi.
Prinsip-prinsip etika profesi :
  •  Tanggung jawab.
  •  Keadilan
  •  Otonomi

Kode Etik 

->norma atau aa yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Tujuan kode etik
1
  • Untuk menjunjung tinggi martabat profesi. 
  • Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota. 
  • Untuk meningkatkan pengabdian para anggota korupsi.
  •  Untuk meningkatkan mutu profesi.
  •  Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. 
  •  Menigkatkan layanan di atas kentungan pribadi.
  •  Mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin erat menetukan
  •  Menentukan baku standarnya sendiri.
ALIRAN DALAM ETIKA
  •   Eudemonisme => Pandangan aliran ini menekankan bahwa kebaikan tertinggi manusia terletak pada kebahagiaan atau situasi yang secara umum baik. 
Mereka meyakini hal-hal berikut:
  • adanya suatu skala nilai-nilai, asas-asas moral atau aturan-aturan bertindak (code of conduct)
  • lebih menguntungkan hal-hal yg bersifat spiritual atau mental daripada yg bersifat inderawi/ kebendaan 
  • lebih mengutamakan kebebasan moral daripada ketentuan kejiwaan atau alami.
  • lebih mengutamakan hal yang umum daripada yang khusus.

Aliran Pemikiran Etika

  •  Hedonisme => Aliran ini menganjurkan manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmatan, kesenangan. Aliran hedonisme menyatakan bahwa kesenangan/ kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia oleh karena itu reguklah kenikmatan selama masih bisa direguk.
Aliran Pemikiran Etika
  • Egoisme =>kesenangan dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan orang lain.
  •  Utilitarianisme =>  Ini merupakan bentuk hedonisme yang digeneralisir. Kesenangan atau kenikmatan manusia dilihat sebagai seusuatu yang baik dalam dirinya, sedangkan penderitaan dan sakit adalah buruk dalam dirinya. Aliran ini menyatakan bahwa tindakan yg baik adalah tindakan yg sebesar-besarnya bagi manusia yang sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain segala sesuatu yang berguna selalu dianggap baik.
  • Deontologisme  => etika kewajiban yang didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip-prinsip moral. Sikap dan intensi pelaku lebih diutamakan daripada apa yang dilakukan secara konsekuensi perbuatan itu.Berpendirian bahwa sesuatu tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan suatu hal. Yang menjadi dasar moralitas adalah kewajiban.

  • Etika situasi =>kebenaran suatu tindakan ditemukan dalam situasi konkret individual atau bagaimana situasi itu mempengaruhi kesadaran individual.

 BEDA ETIKA DAN MORAL

Hanya asal bahasanya yang berbeda. Perbedaan etika dan moral dalam penggunaannya sehari-hari adalah moral/moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai; etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.

AMORAL DAN IMORAL

Kamus Besar Bahasa Indonesia:
                “Amoral” dijelaskan sebagai “tidak bermoral, tidak berakhlak” (contoh: “Memeras para pensiunan adalah tindakan amoral”); tidak terdapat kata “immoral”.
Concise Oxford Dictionary:
Amoral ->tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis, non-moral
Immoral -> bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis  
    
BEDA ETIKA DAN ETIKET

Perbedaan etika dan etiket adalah, etiket menyangkut cara suatu perbuatan dilakukan sedangkan etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etiket berlaku dalam pergaulan, sedangkan etika lebih kepada diri sendir. Etiket bersifat relative di setiap tempat, sedangkan etika bersifat absolut. Etiket hanya memangang manusia dari segi lahiriah, sedangkan etika menyangkut manusia dari segi dalam.

BEDA ETIKA DAN HUKUM

Hukum lebih dikodifikasi daripada etika; etika tidak dikodifikasi. Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja; etika menyangkut juga sikap batin seseorang. Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan etika (sanksi hukum bisa dipaksakan, etika tidak bisa dipaksakan). Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara; etika melebihi para individu dan masyarakat.
Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya. Etika ditujukan kepada manusia sebagai individu; hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.

BEDA ETIKA DAN AGAMA
      
          Etika sebagai cabang filsafat bertitik tolak pada akal pikiran, bukan agama. Etika mendasarkan diri hanya pada argumentasi rasional. Agama bertitik tolak dari wahyu Tuhan melalui Kitab Suci.

PERSOALAN-PERSOALAN DALAM PRAKTEK ETIKA:
  1. Apa yg dimaksud “baik” atau “buruk” secara moral.
  2. Apa syarat2 sesuatu perbuatan dikatakan baik secara moral?
  3. Bagaimana hubungan antara kebebasan kehendak dengan perbuatan susila.
  4. Apa yg dimaksud kesadaran moral?
  5. Bagaimana peranan hati nurani dalam setiap perbuatan manusia?
  6. Bagaimana pertimbangan moral berbeda dari dalam bergantung pada suatu pertimbangan yang bukan moral.


 sumber : rangkuman slide dosen

3 comments:

  1. wah, makin lengkap ya dinda :) 90 untuk dinda

    ReplyDelete
  2. Blognya keren aku kasih 90 yaa

    ReplyDelete
  3. lengkap , singkat , dan mudah dibaca . 90 ya untuk kamu

    ReplyDelete